Toleransi [As-Samahah] dalam Pandangan Islam

APA ITU AS-SAMAHAH (TOLERANSI) ?

Adalah :

[1] Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan
[2] Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
[3] Kelemah lembutan karena kemudahan
[4] Muka yang ceria karena kegembiraan
[5] Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
[6] Mudah dalam berhubungan sosial (mu’amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
[7] Menggampangkan dalam berda’wah ke jalan Allah tanpa basa basi
[8] Terikat dan tunduk kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ada rasa keberatan

Adalah :

[a] Inti Islam
[b] Seutama iman
[c] Puncak tertinggi budi pekerti (akhlaq)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda.

“Artinya : Sebaik-baik orang adalah yang memiliki hati yang mahmum dan lisan yang jujur, ditanyakan : Apa hati yang mahmum itu ? Jawabnya : ‘Adalah hati yang bertaqwa, bersih tidak ada dosa, tidak ada sikap melampui batas dan tidak ada rasa dengki’. Ditanyakan : Siapa lagi (yang lebih baik) setelah itu ?. Jawabnya : ‘Orang-orang yang membenci dunia dan cinta akhirat’. Ditanyakan : Siapa lagi setelah itu ? Jawabnya : ‘Seorang mukmin yang berbudi pekerti luhur” [Lihat Shahih Al-Jami' As-Shaghir wa Ziyadatuhu. No. 3266]

Kedudukan Toleransi dalam Islam

[1] Islam Adalah Agama Yang Mudah dan Penuh Toleransi

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : … Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu …” [Al-Baqarah : 185]

Allah menghendaki untuk membersihkan umat Islam yang dirahmati ini dari segala bentuk kesulitan dan belenggu, maka Allah tidak menjadikan untuk mereka kesempitan pada agama ini. Allah Jalla Tsamauh berfirman.

“Artinya : Dan berjihadlah kamu dijalan Allah dengan jihad sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak akan menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu ….” [Al-Hajj : 78]

[2] Allah Mengutus Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam Dengan Membawa Al-Hanifiyah (agama yang Lurus) As-Samhah (yang Mudah)

Dari Aisyah Radliyallahu ‘anha dia menceritakan : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku sementara anak-anak Habasyah bermain tombak di masjid pada hari raya, beliau menawariku : “Wahai Humairo ! Apakah engkau suka melihat permainan mereka ?” Jawabku : Ya !. Maka beliau menyuruhku berdiri di belakangnya, lalu beliau menundukkan kedua pundaknya supaya aku dapat melihat mereka, akupun meletakkan daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku pada pipi beliau, lalu akupun melihat dari atas kedua pundak beliau, sementara itu beliau mengatakan : “Bermainlah wahai bani Arfadah !” Kemudian selang setelah itu beliau bertanya : “Wahai Aisyah ! Engkau sudah puas ?” Kataku : “Belum” Supaya aku melihat kedudukanku disisi beliau, hingga akupun puas. Kata beliau : “Cukup?” Jawabku : “Ya”. Beliau berkata : “Kalau begitu pergilah!”. Aisyah berkata : “Lalu Umar muncul, maka orang-orang dan anak-anak tadi berhamburan meninggalkan mereka (Habasyah), Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saya melihat para syaithan manusia dan jin lari dari Umar”. Aisyah mengatakan : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu bersabda.

“Artinya : Supaya orang Yahudi tahu bahwa pada agama kita ada keleluasaan, aku diutus dengan Al-Hanifiyah (agama yang lurus) As-Samhah (yang mudah)”. [Muttafaq 'Alaihi, kecuali lafadh yang dijadikan dalil yang diriwayatkan oleh Ahmad 6/116 dan 233 dan Al-Humaidi 254 dengan sanad yang shahih]

[3] Agama Yang Paling Allah Cintai Adalah Yang Lurus dan Mudah

Hukum-hukum Islam dibangun di atas kemudahan dan tidak menyulitkan, norma-norma agama ini seluruhnya dicintai (oleh Allah) namun yang mudah dari itu semualah yang paling dicintai oleh Allah.

Oleh sebab itu, tidak boleh mempersulit diri dalam menjalankan agama Allah dan tidak boleh pula membuat sulit hamba-hamba Allah.

Tiada seorangpun yang mempersulit agama ini melainkan dia pasti akan kalah. Lihatlah perbuatan Bani Israil, tatkala mereka mempersulit diri, Allah-pun mempersulit mereka. Kalau seandainya mereka mempermudahnya, niscaya mereka akan diberi kemudahan, perhatikan kisah ‘Al-Baqarah!’ {Al-Baqarah : 67-71}

Dari Ibnu Abbas Radliyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya : “Agama apa yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla ? Beliau menjawab : “Al-Hanifiyah As-Samhah” (yang mudah dan yang lurus) {Dikeluarkan oleh Bukhari secara Muallaq (tanpa menyebutkan sanad) 1/93 – Al-Fath dan dia sambungkan sanadnnya dalam Al-Adab Al-Mufrad hal.44, Ahmad 1/236, dihasankan oleh Al-Hafidh dalam Al-Fath 1/94. Disahihkan oleh Ahmad Syakir dalam At-Ta’liq ala Al-Musnad 2108 dan keduanya dikritik oleh Syaikh kami (Al-Albani) dalam Ash-Shahihah 881 beliau menghasankannya dengan penguat-penguatnya.}

Oleh karena itu, Ibnu Abbas meriwayatkan, beliau ditanya tentang seorang lelaki yang meminum susu murni, apakah dia harus berwudlu ?. Beliau menjawab : “Bermudahlah niscaya engkau akan diberi kemudahan” {Lafadh ini diriwayatkan secara marfu (sampai kepada Nabi) dari hadits Ibnu Abbas, dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid-nya atas Al-Musnad 1/248 secara wijadah (riwayat dengan kitab)}

Yakni gampangkanlah nicaya Allah akan memberi keringanan untukmu dan atasmu. [Lisanul Arab 2/498]

4. Toleransi Adalah Keimanan Yang Paling Utama

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Seutama-utama keimanan adalah sabar dan toleransi” [Shahih Al-Jami' As-Shaghir 1108]

[5] Toleransi Adalah Amalan yang Paling Ringan dan Paling Utama

Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari bertanya : “Wahai Rasulullah ! Amalan apakah yang paling utama ?” Jawab beliau : “Iman kepada Allah, membenarkan-Nya, dan berjihad di jalan-Nya”. Orang tadi berkata : “Aku ingin yang lebih ringan daripada itu wahai Rasulullah ?” Kata beliau : “Sabar dan toleransi” Kata orang itu : “Aku ingin yang lebih ringan lagi”. Beliau bersabda : “Janganlah engkau menuduh Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam sesuatu yang telah Allah putuskan untukmu” [Dikeluarkan oleh Ahmad 5/319 dari hadits Ubadah bin Ash-Shamit Radliyallahu 'anhu dan 4/385 dari 'Amr bin Arbasah Radliyallahu anhu dia berkata : 'Apa itu Iman ?" Beliau menjawab : "Sabar dan toleransi", Dia punya penguat dari hadits Jabir Radliyallahu 'anhu, maka hadits ini pun shahih dengan jalan-jalan dan penguatnya]

[6] Beberapa Contoh Toleransi

(a) Termasuk toleransi dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan agama Allah untuk seluruh umat manusia.

Allah berfirman.
“Artinya : Dan tidak Kami mengutusmu melainkan untuk menebarkan rahmat di seluruh alam ….” [Al-Anbiya : 107]

Allah juga berfirman.
“Artinya : Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan …” [Saba : 28]

(b) Toleransi Islam menolak sikap fanatisme dan perbedaan ras

Islam telah menyucikan diri dari ikatan dan belenggu jahiliyyah, maka Islam-pun menghapus pengaruh fanatisme yang merupakan sumber hukum yang dibangun di atas hawa nafsu.

Islam tidak meridhoi kebathilan fanatisme dan perbedaan ras yang mengukur keutamaan dan kebenaran dengan darah fanatisme dan tanah. Thagut itu benar-benar ada pada syari’at jahiliyah, oleh sebab itu, Islam menghinakannya karena mencekik kemulian insan.

Dengan demikian, Islam telah menghidupkan hati dan memakmurkannya dengan iman yang benar dan menghasungnya kepada kebajikan, petunjuk dan keadilan. Serta menghapus perbedaan jenis, bahasa, ras, nasab dan harta benda, menjadikan segenap keutamaan dan kemuliaan untuk ketaqwaan yang merupakan mata air sikap toleransi, puncak tertinggi dan muara keistimewaan dan kelebihannya.

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kamu adalah orang-orang yang paling bertawqa di antara kamu. Sesunguhnya Allah Maha Mengatahui dan Maha Mengenal” [Al-Hujurat : 13]

Pintu-pintu toleransi banyak sekali dan contoh-contohnya berbilang serta jalan-jalannya beragam hingga sulit menghitung detailnya dalam waktu singkat. Cukup bagimu sebagai dalil, bahwa toleransi mencakup Islam baik dari segi aqidah, ibadah, budi pekerti maupun pendidikan, bukanlah Islam itu agama yang lurus dan penuh toleransi !?

Berikut ini adalah sebagian contoh toleransi dalam Islam

1. Toleransi Dalam Jual Beli dan Hukum-Hukumya.
Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan Syu’aib berkata : ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka …” [Hud : 85]

Allah Yang Maha Mulia juga berfirman.

“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam ?” [Al-Muthaffifin : 1-6]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Allah telah mengampuni seorang lelaki dari kalangan umat sebelum kalian dulu, dia mudah bila menjual, mudah bila membeli dan mudah bila memutuskan” [Hadits Riwayat Tirmidzi 1320, Ahmad 3/340 dari hadits Jabir Radliyallahu anhu dan dishahihkan oleh Syaikh kami (Al-Albani) dalam Shahihul Jami' 4038]

Beliau juga bersabda.

“Artinya : Sesunguhnya Allah mencintai jual-beli dan keputusan yang mudah” [Hadits Riwayat Tirmidzi 1319 Al-Hakim 2/56 dengan dua jalan dari Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Syaikh kami (Al-Albani) dalam Shahihul Jami 1884]

Lafadh “samhun” artinya “sahlun” yakni mudah, dia adalah sifat musyabbahah yang menunjukkan penetapan, oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi keadaan jual-beli dan keputusan hukum. Hal ini menunjukkan sikap mempermudah dalam hubungan sosial dan membuang sikap kikir serta memberikan hak-hak menusia dengan segera (tidak terlambat).

Termasuk keindahan keputusan hukum adalah bahwa orang yang meminjam sesuatu lalu mengembalikannya dengan yang lebih baik atau lebih banyak dengan tanpa syarat adalah orang yang berbuat baik, dan hal ini halal bagi pihak yang meminjamkan.

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu dia menceritakan.

“Dahulu ada seorang lelaki yang meminjami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam onta berumur setahun, lalu dia datang kepada beliau menagihnya. Beliaupun memerintahkan : “Berikan kepadanya!” Maka para shahabat mencarikan onta yang sama denganya, namun mereka tidak mendapatkan kecuali onta yang lebih bagus daripadanya, beliaupun berkata : “Berikan onta itu kepadanya !” Lelaki itupun berkata :”Engkau telah menepatiku mudah-mudahan Allah menepatimu”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling bagus keputusannya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/482-483, 5/56-58, 22-227- Al-Fath dan Muslim 11/38 - Nawawi]

2. Toleransi Dalam Hutang Dan Tagihan
Allah yang Maha Agung berfirman.

“Artinya : Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka beri tangguhlah sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang itu) labih baik bagimu, jika kamu mengetahui” [Al-Baqarah : 280]

Sungguh peletak syari’ah (Allah) yang Maha Hikmah telah menghasung untuk memberi tangguh orang yang kesulitan hutang dan memberikan keistimewaan agung sebagaimana yang akan dijelaskan dalam pasal ‘Keutamaan Toleransi”, cukuplah bagimu untuk sekedar tahu, bahwa memberi tangguh orang yang kesukaran dan mema’afkannya termasuk penghapus dosa dan sebab Allah mema’afkan kesalahan-kesalahannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Dahulu ada seorang saudagar yang biasa menghutangi orang, bila dia melihat orang yang kesukaran (dalam membayar hutang), maka dia memerintahkan para pegawainya : “Ma’afkanlah dia mudah-mudahan Allah mema’afkan kita !” Maka Allah-pun mema’afkan dia …” [Hadits Riwayat Bukhari 4/309- Al-Fath]

Termasuk cara menagih yang bagus adalah toleran dalam menagih, menerima kekurangan sedikit yang ada padanya. Menuntutnya dengan mudah, tidak menjilat (rentenir, -pent), tidak mempersulit orang dan mema’afkan mereka mudah-mudahan Allah merahmati kita.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Mudah-mudahan Allah merahmati lelaki yang toleran bila menjual, membeli dan menagih” [Hadits Riwayat Bukhari 4/206 -Al-Fath]

3. Toleransi Dengan Ilmu
Toleransi dengan ilmu di sini yaitu dengan cara menyebarkan ilmu dan ini termasuk pintu toleransi yang paling utama dan lebih baik daripada toleransi dengan harta, sebab ilmu lebih mulia daripada harta.

Maka seyogyanya seorang alim menyebarkan ilmu kepada setiap orang yang bertanya tentangnya bahkan mengeluarkannya secara keseluruhan, bila ia ditanya tentang suatu masalah. Maka dia memperinci jawabannya dengan perincian yang memuaskan dan menyebutkan sisi-sisi dalilnya, dia tidak cukup menjawab pertanyaan si penanya, namun dia menyebutkan contoh kasus serupa dengan kaitan-kaitannya serta faedah-faedah yang dapat memuaskan dan mencukupinya.

Para sahabat yang mulia Radliyallahu ‘anhum pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang berwudlu dengan air laut, maka beliau menjawab.

“Artinya : Laut itu suci airnya lagi halal bangkainya” [Hadits Riwayat Ashabus Sunan dan Malik, lihat takhrijnya secara rinci dalam Ash-Shahihah 480]

Beliau menjawab pertanyaan mereka dan memberikan kepada mereka ketarangan tambahan yang mungkin sewaktu-waktu lebih mereka butuhkab daripada apa yang mereka pertanyakan.

Pintu-pintu toleransi banyak sekali dan contoh-contohnya berbilang serta jalan-jalannya beragam hingga sulit menghitung detailnya dalam waktu singkat. Cukup bagimu sebagai dalil, bahwa toleransi mencakup Islam baik dari segi aqidah, ibadah, budi pekerti maupun pendidikan, bukanlah Islam itu agama yang lurus dan penuh toleransi !?

4. Toleransi Dengan Kehormatan
Toleransi ini menunjukkan keselamatan hati, ketenangan jiwa dan kebersihan hati dari rasa permusuhan.

Dahulu, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radliyallahu anhu memberi uang belanja kepada Misthoh bin Utsatsah karena hubungan famili dan kefakirannya.

Tatkala Misthoh binasa bersama orang yang binasa dari kalangan ashabul ifki (pembuat berita dusta), lalu dia tenggelam bersama orang yang tenggelam menuduh As-Sayyidah Aisyah Radliyallahu ‘anha berbuat mesum, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq Radliyallahu ‘anhu bersumpah tidak akan memberi uang belanja kepada Misthoh. Ash-Shiddiq ditegur, beliaupun bershodaqoh dengan kehormatannya walau dosa Misthoh sedemikian besar.

Sungguh indah ucapan penyair.

“Sesungguhnya kadar dosa Misthoh
dapat meruntuhkan bintang-bintang dari ufuknya
Sunnguh telah terjadi apa yang terjadi
Ash-Shiddiq ditegur tentang haknya (Si Misthoh)

Biarlah, wahai pembaca ! Ummul Mukminin As-Sayyidah Aisyah Radliyallahu anha yang memberi tahu kita tentang kejelasan kasus ini ; beliau mengisahkan : ” ….Maka Allah menurunkan (ayat) tentang kesucianku” Abu Bakr Ash-Shiddiq Radliyallahu ‘anhu pun menyatakan : Dan dia dulunya memberi uang belanja kepada Misthoh bin Utsatsah karena kefamilian dan kefakirannya ” Demi Allah ! Aku tidak akan memberi uang belanja sedikit pun kepada si Misthoh selamanya setelah tuduhannya kepada Aisyah” maka Allah menurunkan (ayat).

“Artinya : Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu ? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [An-Nur : 22]

Abu Bakr mengatakan : “Ya ! Demi Allah sungguh aku suka Allah mengampuniku” beliaupun kembali membantu Misthoh seperti sebelumnya, dan menyatakan : “Demi Allah aku tidak akan mencabutnya dari dia selamanya” [Hadits Riwayat Bukhari 8/455- Fath dan Muslim 17/113-Nawawi]

5. Toleransi Dengan Kesabaran dan Menanggung Beban
Hal ini termasuk bab toleransi yang paling banyak manfaatnya, tidak ada yang mampu bersikap seperti ini kecuali orang yang berjiwa besar. Barangsiapa yang sulit bertoleransi dengan harta benda, maka dia harus memiliki kemuliaan dan kedermawanan model ini, sebab ia dapat menghasilkan buah yang akibatnya terpuji di dunia sebelum akhirat nanti.

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Lemah lembut terhadap kaum mukminin” [Al-Maidah : 54]

Maksudnya, sikap mereka lembut dan lunak kepada saudara mereka kaum mukminin, namun dia tidak menghinakan dirinya.

Allah yang Maha Mulia berfirman.

“Artinya : Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang yang beriman” [Asy-Syu'ara : 215]

Maksudnya, hendaklah engkau bersikap lemah lembut, sebab : “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu ….” [Ali Imran : 159]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Kaum mukminin adalah orang yang lemah lembut dan lunak, seperti halnya onta jinak bila diikat dia terikat, bila dituntun dia tertuntun dan bila engkau menambatkannya pada sebuah batu maka diapun tertambat” [Lihat Ash-Shahihah : 936]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan seorang mukmin seperti onta jinak yang tidak pernah menolak penuntunnya dalam perkara apapun, dia menanggung beban dengan kesabaran bukan karena kebodohan dan kedunguan, namun karena sifat kemuliaan, budi pekerti yang luhur dan kedermawanan karena seorang mukmin adalah orang yang mulia sedangkan orang jahat (fajir) adalah orang yang jelek lagi penipu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri diserupakan seperti di atas, kemana-pun beliau dibawa belaiu ikut.

Dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhu dia menceritakan : “Sungguh ada seorang budak wanita dari Madinah ‘mengambil tangan’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengajak beliau sekehendaknya” [Dikeluarkan oleh Bukhari 10/489 secara mu'allaq dan disambungkan oleh Ahmad 3/98, dia memiliki jalan lain dari Anas semisalnya, dikeluarkan oleh Ibnu Majah 4177 dan Ahmad 3/174, 215, 216 padanya terdapat Ali bin Zaid bin Jad'an dia lemah namun dapat dijadikan penguat]

Al-Hafidh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan : “Yang dimaksud dengan ‘mengambil tangan’ adalah makna tersiratnya yaitu lemah lembut dan tunduk/patuh … Ungkapan ‘mengambil tangan’ mengisyaratkan puncak perlakuan walaupun kebutuhan budak tadi hingga di luar kota Madinah dan membutuhkan bantuan beliau niscaya beliau membantunya. Ini semua menunjukkan kelebihan sikap tawdlu’ beliau dan bersihnya beliau dari segenap kesombongan, Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Fathul Bari 10/490]

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN TOLERANSI

1. Toleransi Merupakan Penghapus Kesalahan

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Para Malaikat mengerumuni roh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka bertanya : ‘Apakah engkau pernah berbuat kebajikan ?’ Ia menjawab : ‘Dulu aku menyuruh para pegawaiku untuk memberi tangguh orang yang kesulitan (dalam membayar hutang, -pent) dan mema’afkan orang yang mudah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ‘Ma’afkanlah dia” [Hadits Riwayat Bukhari 4/307 -Fath]

Beliau juga menceritakan.

“Artinya : Ada seorang lelaki sebelum kalian dihisab ternyata tidak didapati baginya amalan kebajikan kecuali dia dulunya orang yang lapang (berkecukupan) dia biasa berhubungan dengan orang lain, dan dia menyuruh para pegawainya untuk mema’afkan orang yang kesulitan. Maka Allah Azza wa Jalla memerintahkan para malaikat-Nya : ‘Kita lebih berhak untuk itu dari dia, ma’afkanlah dia” [Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir : 3154]

Dalam riwayat lain beliau mengisahkan.

“Artinya : Sesungguhnya ada seorang lelaki sebelum kalian didatangi malaikat maut untuk mencabut nyawanya, malaikat tadi bertanya kepadanya : ‘Apakah engkau pernah mengamalkan kebajikan ? Jawabnya : ‘Saya tidak tahu’. Katanya : Lihat ! Jawabnya : ‘Aku tidak mengetahui sedikitpun (amalan baik) hanya saja saya dahulu berjual beli dan berhubungan dagang dengan masyarakat, maka aku memberi tangguh orang yang kesulitan dan mema’afkan orang yang lapang’. Allah-pun memasukkan ke dalam Surga” [Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 2075]

2. Toleransi Merupakan Sebab Turunnya Rahmat Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Mudah-mudahan Allah merahmati sorang lelaki yang toleran bila menjual, membeli dan menagih.” [Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3489]

3. Toleransi Dapat Menyelamatkan (Pelakunya) Dari Kengerian Hari Kiamat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa memberi tangguh orang yang kesulitan atau meletakkan hutangnya (dianggap lunas tanpa bayar, -pent) , maka Allah akan menyelamatkannya dari kengerian di hari kiamat” [Hadit Riwayat Muslim : 1563]

Beliau juga memberitakan.

“Artinya : Barangsiapa memberi tangguh orang yang kesulitan atau meletakkannya, maka Allah akan menaunginya di hari kiamat pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya” [Hadits Riwayat Muslim 3006, Nukilan Hadits Jabir yang panjang]

4. Toleranasi Mengharamkan Pelakunya Dari Api Neraka

Sabda beliau.

“Artinya : Barangsiapa yang mempermudah, lemah lembut dan lunak (perangainya), maka Allah mengharamkan api neraka atasnya” [Shahih Jami' Ash-Shaghir 6360]

Beliau juga bersabda.

“Artinya : Maukah kalian saya beritahu tentang orang yang diharamkan masuk neraka besok (di hari akhir) ? Yaitu orang yang lemah lembut, familiar dan mudah (toleran)” [Shahih Al-Jami' 2606]

BEBERAPA HAL YANG DAPAT MEMBANTU SIKAP TOLERANSI

1. Menahan Angkara Murka

Ketahuilah wahai saudaraku muslim, bahwasanya toleransi itu adalah kerelaan hati dan kelapangan dada bukan karena menahan, kesempitan dan terpaksa sabar melainkan toleransi adalah bukti kebaikan hati, lahir dan bathin.

Hanya saja, toleransi tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan menahan angkara murka dan berupaya sabar, bila seorang hamba dapat dengan mantap melewatinya, maka dia akan memasuki -pintu-pintu toleransi- dengan pertolongan dan taufik dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman memuji kaum mukminin.

“Artinya : (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang berbuat kebajikan” [Ali-Imran : 134]

Dan firman-Nya yang lain.

“Artinya : … Dan apabila mereka marah, mereka memberi ma’af” [Asy-Syura : 37]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang dapat menahan angkara murkanya padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya dihadapan khalayak guna disuruh memilih bidadari mana yang dia kehendaki untuk Allah nikahkan dia dengannya” [Shahih Al-Jami 6394 dan 6398]

2. Mema’afkan dan Berlapang Dada

Kapan saja engkau menyaksikan wahai hamba yang toleran ! Keutamaan dari sikap toleransi ini dan engkau telah merasakan kelezatan dan kemuliaannya, maka engkau tidak akan berpaling darinya.

Ketahuilah ! Semoga Allah membantumu dengan pertolongan-Nya, bahwasanya tidak ada yang berpaling darinya kecuali orang yang telah Allah porak-porandakan hatinya dan Allah tutupi pandangan dan mata hatinya.

Bagaimana mungkin engkau berpaling dari derajat kemuliaan menuju tangga kehinaan ? Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari keadaan yang demikian itu.

Para cendekiawan telah mengetahui dengan ekseperimennya dan realita yang ada, bahwa seorang hamba bila dia melampiaskan kemarahan dirinya, maka dia akan hina dan tergelincir, sementara pada sikap mema’afkan dan berlapang dada terdapat kelezatan, ketenangan, kemuliaan jiwa dan keagungan serta ketinggiannya yang tidak terdapat sedikitpun pada sikap pembalasan dan pelampiasan angkara murka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta benda, tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan sikap pema’afnya kecuali kemuliaan dan tidaklah seorang bertawadlu karena Allah melainkan Allah mengangkat (derajat)nya” [Hadits Riwayat Muslim 2588 dan lainnya]

3. Mengharapkan Apa yang Ada di Sisi Allah dan Berbaik Sangka kepada Allah

Pengharapan adalah masalah yang urgen bagi muslim yang menempuh perjalanan (menuju Allah) karena dia berkisar antara dosa yang diharapkan pengampunannya, aib yang diharapkan perbaikannya, amal shalih yang diharapkan diterima, istiqamah yang diharapkan eksitensinya dan taqarrub kepada Allah serta kedudukan disisi-Nya yang diharapkan tercapai. Barangsiapa yang mengharapkan apa yang ada disisi-Nya maka dia akan mema’afkan orang lain, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebajikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Ada seorang lelaki yang tidak beramal kebajikan sama sekali, dulunya ia biasa menghutangi orang lain, dia menyuruh utusannya : “Ambillah yang mudah dan tinggalkan yang kesulitan, ma’afkan semoga Allah mema’afkan kita !” Tatkala dia meninggal, Allah bertanya : “Apakah engkau pernah beramal kebaikan sedikitpun ?!” Jawabnya : “Tidak ! Hanya saja saya memiliki seorang budak dan saya biasa menghutangi orang, bila saya mengutusnya untuk menagih hutang saya perintah ia : “Ambillah apa yang lapang biarkan yang kesulitan dan ma’afkan semoga Allah mema’afkan kita!” Allah berfirman : “Sungguh Aku telah mema’afkanmu” [Shahih Al-Jami' 2074]

Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim tatkala beliau bersyair.

Kalaulah tiada bergantung dengan pengharapan
Niscaya jiwa sang pencipta
akan nelangsa dan terbelah
Begitu pula, kalaulah dia
tidak mendinginkan panasnya
Hati, niscaya akan lebur terbakar tirai
Apakah teman yang mengerumuni
tak berlihat sama sekali
Pengharapan yang terkait dengan kekasihnya
Ataukah, setiap kali kecintaan kepada-Nya menguat
Menguat pula rasa pengharapan
hingga menambah kerinduan
Kalaulah tiada pengharapan, kendaraan
berdendang berjalan
Membawa beban menuju negerinya
mengharap perjuampaan”
[Madarijus Salikin 2/42]

Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka dia akan melupakan kebaikan terhadap orang yang pernah dia berbuat baik kepadanya, hingga seolah-olah dia tidak pernah berbuat kebaikan. Dalam hal ini dikatakan.
“Dia melupakan segala perbuatannya dan Allah yang menampakkannya. Sesunguhnya perbuatan baik bila dilupakan akan nampak dengan sendirinya”

CONTOH SIKAP TOLERANSI NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Ketahuilah wahai muslimin, bahwasanya orang yang hendak memahami makna toleransi sebagaimana mestinya, hendaknyalah dia melihat sejarah hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bermasyarakat, maka dia akan mendapatkan pengertian toleransi yang sesungguhnya.

Sungguh Al-Musthofa Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat lemah-lembut, bila para sahabat membicarakan masalah dunia, beliau ikut berbicara bersama mereka, bila mereka berbicara tentang akhirat, beliau juga ikut bercengkrama dengan mereka, dan bila di dalam rumahnya, beliau biasa membantu keluarganya (istrinya), dan sikap beliau ini seperti yang Allah firmankan.

“Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keselamatan dan keimanan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman” [At-Taubah : 128]

Dari sini, tidak ada seorangpun yang dapat mencapai derajat kesempurnaan sikap toleransi selain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu para pewarisnya menurut kadar andil mereka dalam mencapai harta warisan beliau.

1. Toleransi Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bila Memutuskan

Dari Abu Hurairah Radliyallahu anhu, bahwasanya ada seorang lelaki yang menagih Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam sembari bersikap kasar kepada beliau, maka para sahabat-pun hendak menghardiknya, beliau bersabda : “Biarkanlah dia, karena setiap orang punya hak untuk berbicara, belikan untuknya seekor onta lalu berikan kepadanya” Para sahabat berkata : “Kami tidak mendapatkan kecuali yang lebih bagus jenisnya!” Beliau bersabda : “Belikanlah dan berikan kepadanya karena sebaik-baik kalian adalah yang terbaik keputusannya” [Hadits Riwayat Bukhari 2/482 dan Muslim 11/38]

2. Toleransi Beliau Dalam Jual-Beli

Dari Jabir bin Abdullah Radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli onta dari dirinya, beliau menimbang untuknya dan diberatkan (dilebihkan). [Hadits Riwayat Bukhari 4/269 dan Muslim 3/1223]

Dari Abu Sofwan Suwaid bin Qais Radliyallahu ‘anhu dia berkata : “Saya dan Makhramah Al-Abdi memasok (mendatangkan) pakaian/makanan dari Hajar, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami dan belaiu membeli sirwal (celana), sedang aku memiliki tukang timbang yang digaji, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tukang timbang tadi.
“Artinya : Timbanglah dan lebihkan !” [Hadits Riwayat Abu Dawud 3336, At-Timidzi 1305, Ibnu Majjah 2200 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh kami (Al-Albani) dalam Shahih Al-Jami 3568]

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM TOLERANSI

Sebagian orang terkadang masih kabur tentang pemahaman makna toleransi, dia mengira bahwa ada beberapa perkara yang bertolak belakang dengan makna toleransi. Padahal perkara tersebut adalah inti dan kunci pintu toleransi. Inti dan kunci dari pintu toleransi itu diantaranya.

[1]. Marah Ketika Keharuman Allah Dilanggar

Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi ma’af dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka dan mereka mema’afkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dholim, mereka membela diri” [Asy-Syura : 37 - 39]

Dari Aisyah Radliyallahu anha dia menceritakan.

“Artinya : Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disuruh memilih antara dua urusan melainkan beliau memilih yang paling mudah, selama tidak mengandung dosa, bila mengandung dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah sekalipun kecuali bila keharuman Allah dilanggar, beliau marah karena Allah” [Hadits Riwayat Bukhari 6/419-420 dan Muslim 2327]

[2]. Menuntut Hak

Seorang lelaki datang menuntut haknya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berlaku kasar kepada belliau, para shabatpun hendak menghardiknya, namun beliau bersabda : “Biarkanlah dia, karena orang yang mempunyai hak untuk berbicara” [Telah lewat takhrij hadits ini]

 

 

[Disalin dari kitabToleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi.]

Sumber: http://almanhaj.or.id/

About these ads
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak