Iman Kepada Nabi Muhammad

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallamó [1]

Beliau adalah Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushayy bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu-ayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘Adnan, dan ‘Adnan adalah salah satu putera Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim al-Khalil – salam terlimpah atas Nabi kita dan atas keduanya-.

Beliau adalah penutup para Nabi dan Rasul, serta utusan Allah kepada seluruh manusia. Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan Rasul yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, makhluk yang paling utama dan paling mulia di hadapan Allah Ta’ala, derajatnya paling tinggi, dan kedudukannya paling dekat kepada Allah.

Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa kebenaran dan petunjuk, yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi alam semesta, sebagaimana firman-Nya:

“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa’: 107]

Allah menurunkan Kitab-Nya kepadanya, mengamanahkan kepadanya atas agama-Nya, dan menugaskannya untuk menyampaikan risalah-Nya. Allah telah melindunginya dari kesalahan dalam menyampaikan risalah ini, sebagaimana firman-Nya:

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm: 3-4]

Ahlus Sunnah beriman bahwa Allah Ta’ala mendukung (menguatkan) Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallamó dengan mukjizat-mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang jelas.

Di antara mukjizat-mukjizat tersebut dan yang terbesar ada-lah Al-Qur-an yang dengannya Allah mengemukakan tantangan kepada ummat yang paling fasih dan paling mendalam (bahasanya) serta paling mampu bermanthiq (berlogika).

Mukjizat terbesar -setelah Al-Qur-an- yang dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallamó adalah mukjizat Isra’ dan Mi’raj.

Di antara mukjizat beliau juga adalah:

Terbelahnya bulan, suatu mukjizat besar yang Allah berikan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallamó sebagai bukti atas kenabian-nya. Hal itu terjadi di Makkah ketika kaum musyrikin meminta suatu bukti dari beliau.

Memperbanyak makanan untuk beliau, dan ini terjadi pada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallamó lebih dari sekali.

Memperbanyak air, dan air tersebut memancar di antara jari-jemarinya yang mulia, serta makanan bertasbih untuknya saat dimakan. Hal ini sering kali terjadi pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau mengabarkan sebagian perkara ghaib. Beliau mengabar-kan tentang hal-hal yang terjadi yang jauh darinya segera setelah kejadiannya. Beliau pun mengabarkan tentang perkara-perkara ghaib yang belum terjadi, lalu terjadi setelah itu, sebagaimana yang beliau ó Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallamó kabarkan, dan lain-lainnya.

Keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

[1]. Keumuman risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus Allah ke muka bumi untuk segenap jin dan manusia dengan membawa kebenaran, petunjuk dan cahaya yang terang. Dalil tentang keumuman risalah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…’” [Al-A’raaf: 158]

Juga firman-Nya:

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada me-ngetahui.” [Saba’: 28] [2]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2) dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum-pent.), maka siapa saja dari ummatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4) dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” [3]

Mereka (Ahlus Sunnah) mengimani dan meyakini bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ahlus Sunnah menyaksikan dan meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Rasul yang paling mulia dan penghulu seluruh makhluk.

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dua sifat ini (hamba dan utusan) untuk menolak adanya sifat ghuluw (melampaui batas) dan tafrith (melalaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

[2]. Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah wajib dan termasuk bagian dari iman.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidaklah beriman seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” [4]

[3]. Ahlus Sunnah menyaksikan dan meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah penutup para Nabi Alaihimussallam.

Setiap orang yang mendakwahkan adanya kenabian sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka yang demikian itu adalah sesat dan kufur.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Al-Ahzaab: 40]

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan akan adanya dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi, kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“… Dan sesungguhnya akan muncul pada ummatku pendusta yang jumlahnya tiga puluh orang, mereka semua mengaku sebagai Nabi, sedangkan aku adalah penutup para Nabi dan tidak ada Nabi sepeninggalku.” [5]

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Aku memiliki lima nama, aku Muhammad (yang terpuji), aku adalah Ahmad (yang banyak memuji), aku adalah al-Maahi (penghapus) dimana melalui perantaraanku Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Haasyir (pengumpul) yang mana manusia akan dikumpulkan di hadapanku. Aku juga mempunyai nama al-‘Aaqib (belakangan/penutup) -tidak ada lagi Nabi yang datang sesudahku-.” [6]

[4]. Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengetahui masalah yang ghaib semasa hidupnya kecuali yang diajarkan oleh Allah Azza wa Jalla, apalagi setelah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa per-bendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengeta-hui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini Malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku.’…” [Al-An’aam: 50] [7]

Kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengetahui masalah yang ghaib, maka apalagi orang lain. Karena yang mengetahui masalah yang ghaib hanya Allah Azza wa Jalla semata.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Tidaklah ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah.’ Dan mereka tidak mengetahui apabila mereka akan dibangkitkan.” [An-Naml: 65]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Footnotes
[1]. Pembahasan ini merujuk pada kitab al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis Salaafish Shaalih Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 84-87) secara ringkas.
[2]. Lihat juga QS. Al-Anbiyaa’: 107 dan al-Ahqaaf: 29-31.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 335) dan Muslim (no. 521), dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari c, lafazh ini milik al-Bukhari.
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 15), Muslim (no. 44), Ahmad (III/275) dan an-Nasa-i (VIII/114-115), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.
[5]. HR. öAhmad (V/278), Abu Dawud (no. 4252), Ibnu Majah (no. 3952), dengan sanad yang shahih menurut syarat Muslim, dari Sahabat Tsauban Radhiyallahu ‘anhu. Ketahuilah bahwa di antara dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi adalah Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani al-Hindi, yang muncul ketika kolonial Inggris men-jajah India. Pada awalnya ia mengaku sebagai al-Mahdi al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), kemudian mengaku sebagai Nabi ‘Isa q, dan terakhir ia mengaku sebagai Nabi dan mendirikan aliran Ahmadiyah… Mereka (kaum Ahmadiyah) mempunyai keyakinan-keyakinan bathil yang banyak sekali dan menyalahi keyakinan ummat Islam. Mereka menafikan tentang dibangkitkan-nya jasad manusia dari kubur (nanti pada hari Kiamat), mereka meyakini bahwa nikmat dan siksa hanya dialami oleh ruh saja, mereka beranggapan bahwa siksaan terhadap orang kafir terbatas, mengingkari adanya jin dan lain sebagainya. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (IV/252) oleh Syaikh al-Albani.

Pendapat para ulama bahwa Mirza Ghulam Ahmad (1839-1908 M) adalah kafir, juga aliran Ahmadiyah pun kafir, mereka disebut sebagai MINORITAS NON MUSLIM!!!

Di antara keyakinan-keyakinan sesat Ahmadiyah adalah:
1. Meyakini bahwa Allah puasa, tidur, menulis, dapat bersalah dan lainnya. Mereka menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Ta’aalallaahu ‘amma yaquuluuna ‘uluwwan kabiiran.
2. Meyakini bahwa Nabi Muhammad j bukanlah Nabi terakhir, dan mereka me-yakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi terakhir dan paling utama.
3. Mereka memiliki kitab suci tersendiri yang berbeda dengan Al-Qur-an ummat Islam, mereka menamakannya Kitaabul Mubiin.
4. Menurut mereka, tidak ada jihad dalam Islam, dan telah dihapus.
5. Setiap Muslim adalah kafir menurut mereka sampai masuk aliran Ahmadiyah al-Qadiyani.
6. Mereka menghalalkan khamr, narkoba, barang yang memabukkan, dan lainnya.

Ahmadiyah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Yahudi, Nashrani, dan aliran kebathinan. (Lihat al-Mausuu’ah al-Muyassarah fil Adyaan wal Madzaahib wal Ahzaabil Mu’ashirah I/419-423, cet. WAMY, th. 1418 H.)

[6]. HR. Al-Bukhari (no. 3532), Muslim (no. 2354) dan at-Tirmidzi (no. 2840), dari Sahabat Jubair bin Muth’im Radhiyallahu ‘anhu. Penjelasan dalam tanda kurung adalah penjelasan dari Imam az-Zuhri yang terdapat dalam riwayat Muslim dan at-Tirmidzi. Lihat Fat-hul Baari (VI/557) cet. Darul Fikr.
[7]. Lihat juga QS. Al-A’raaf: 188 dan Jin: 26-27.

 

http://www.almanhaj.or.id

Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Aqidah