Mandi Wajib dengan Air Sisa Wanita

Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

 

9. Dari seorang laki-laki yang menjadi sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang wanita mandi dengan sisa air mandi laki-laki atau sebaliknya, namun hendaklah keduanya saling menciduk dari air tersebut.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, dan sanadnya shahih).

TAKHRIJUL HADITS
Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud no.81, Nasa’i 1/130 dan Baihaqi 1/190, dari jalan Dawud bin Abdullah, dari Humaid bin Abdurrahman Al Himyari, ia berkata: Saya pernah berteman dengan seorang laki-laki yang pernah bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana Abu Hurairah, ia berkata:

نَهَى رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوْ يَغْتَسِلُ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ، وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيْعًا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang wanita mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki mandi dari sisa air wanita, dan hendaklah masing-masing menciduknya.

Sanad hadits ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. Jalan yang lain, telah diriwayatkan oleh Abu Dawud no.82, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan lain-lain dari jalan Al Hakam bin Amr Al Aqra’:

أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ نَهَى أَنْ يَتَوَضَّأَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ طُهُوْرِ الْمَرْأَةِ.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang laki-laki berwudhu dari sisa wudhu wanita.

Sanadnya shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqah.

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النبيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا.) أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ(

10.Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu (ia berkata),“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dengan sisa air mandi Maimunah Radhiyallahu ‘anha.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

TAKHRIJUL HADITS
Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim 1/177.

وَلأَصْحَابِ السُّنَنِ: اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْواجِ النَّبيِّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم فِيْ جَفْنَةٍ، فَجَاءَ لِيغْتَسِلَ مِنْها، فَقَالَتْ إنِّي كُنْتُ جُنُباً فَقَالَ: إنَّ الْمَاءَ لاَ يُجْنِبُ )وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَة َ(

11. Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah meriwayatkannya dengan lafazh: Salah seorang dari istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dalam sebuah bak mandi, kemudian beliau pun datang ingin mandi dengan sisa air tersebut, maka istri beliau pun berkata,“Sesungguhnya aku tadi mandi janabah.” Maka beliau bersabda,“Sesungguhnya air itu tidaklah (terkena) junub.” (Dan telah dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah).

TAKHRIJUL HADITS
Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud no.68, Tirmidzi no.65, Nasai 1/173, Ibnu Majah no. 370,371, Ahmad 1/235,284,308,337 dan Ibnu Khuzaimah no.91,109 dan lain-lain banyak sekali, yang semuanya dari jalan Simak (bin Harb), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata:

اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ فِي جَفْنَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ لِيَتَوَضَّأُ مِنْهَا –أَوْ يَغْتَسِلُ- فَقَالَتْ لَهُ : يَارَسُوْلَ الله، إِنِّيْ كُنْتُ جُنُبًا. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمْ : إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُجْنِبُ

Sebagian dari istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi (janabah) di bak mandi yang besar. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang akan berwudhu dengan air tersebut, maka istrinya berkata kepada beliau,”‘Ya Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang junub!” Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,“ Sesungguhnya air itu tidak berjanabah.”

Sanad hadits ini shahih. Dan telah dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Albani dan lain-lain .

Dan dalam salah satu lafazh Nasai, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Abdurrazzaq:

إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

FIQIH HADITS
– Hadits Ibnu Abbas di atas (no.10 dan 11) menunjukkan, bahwa larangan di hadits nomor 9 hanya larangan untuk kebersihan (lit tanzih)***. Karena Nabi n mandi dan berwudhu dari air sisa mandi janabahnya Maimunah istri beliau. Dan Maimunah pernah mandi janabah sambil berendam di bak mandi.
– Dari hadits yang mulia ini, kita mengetahui tidak ada istilah air musta’mal (sisa air yang bekas dipakai untuk mandi janabah atau berwudhu). Yang menurut mereka, bahwa air musta’mal ini suci akan tetapi tidak mensucikan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mengatakan bahwa “air itu tidak berjunub”.
– Sisa bekas mandi janabah tetap suci dan mensucikan, yang selanjutnya boleh dipakai untuk mandi janabah atau berwudhu.
– Boleh mandi janabah sambil berendam di bak mandi .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VII/1424H/2003M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

http://almanhaj.or.id/content/2901/slash/0

————–

***Saya [Abu Muhammad bin Saleh] berkata: Mungkin yang dimaksud ust. Abdul Hakim diatas adalah Makruh Tanzih tidak sampai derajat Haram, inilah yang ditegaskan oleh banyak ‘Ulama untuk mengompromikan hadits-hadits yang terlihat bertentangan seputar masalah ini, wallahua’lam…


Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Fikih