Shalat dan Kedudukannya dalam Agama

Definisi Shalat.

Shalat dari segi bahasa berarti doa kebaikan, penggunaan kata ini dikenal dalam bahasa Arab sebelum ia ditransfer kepada makna syar’i.
Firman Allah Taala,


وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ .


“Dan mendoalah untuk mereka, sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka.” (At-Taubah: 103)

Shalat dari segi istilah syar’i adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan khusus yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam.
Shalat dinamakan shalat karena ia mengandung makna dari segi bahasa yaitu doa kebaikan. Dalam Kitab al-Inshaf dikatakan, “Inilah yang shahih yang dipegang oleh jumhur fuqaha’ dan ahli bahasa Arab.”

[sumber: http://www.alsofwah.or.id/cetakfiqih.php?id=73%5D

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan nikmat Iman dan Islam. Shalawat beserta salam semoga selalu dicurahkan bagi Rasulullah shallallahualaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman.
Sesungguhnya shalat mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah Subhânahu wa Ta’âla yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah yang lain sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qurân dan as-Sunnah, diantaranya:

1.      Shalat sebagai pondasi agama Islam.
Suatu bangunan tidak akan berdiri dan tegak kecuali dengan adanya pondasi yang kokoh. Kedudukan shalat mendapatkan tempat yang tinggi setelah mengucapkan syahadatain sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Islam dibangun di atas lima dasar, yaitu: persaksian bahwa tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi/disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2.      Shalat adalah Induk ibadah dan keta’atan yang paling utama.
Hal ini dikarenakan banyaknya nash-nash dari al-Qurân yang memerintahkannya, menjaganya dengan melaksanakannya tepat waktu dan menunaikannya dengan baik sebagaimana firman Allah Subhânahu wa Ta’âla:
“Peliharalah segala shalatmu dan peliharalah shalat wustha dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. al-Baqarah: 238)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’âla berfirman:
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.(QS. al-Baqarah: 43)

3.      Wasiat terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah shalat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Jagalah shalat, jagalah shalat dan berlaku baiklah terhadap budak-budak yang kamu miliki.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

4.      Shalat adalah mata air yang berisi kesucian dan ampunan Allah ‘Azza wa Jalla
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bagaimana pendapat kalian jika ada mata air yang mengalir di depan pintu salah seorang dari kalian, lalu ia mandi lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran di tubuhnya ? Mereka menjawab; tentu saja tidak ada kotoran yang tersisa, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata; seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa.” (Muttafaqun ‘alaihi)

5.      Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Qurt radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya dan jika buruk maka buruklah seluruh amalannya.” (HR. Thabraani)

6.      Shalat merupakan jaminan keamanan dari api neraka
Hal ini diriwayatkan dari Abu Zuhair ‘Ammarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu ia berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan masuk neraka seorang yang mengerjakan shalat sebelum terbit dan tenggelam matahari, yakni shalat Shubuh dan shalat ‘Ashar.” (HR. Muslim)

7.      Shalat merupakan jalan untuk memperoleh keberuntungan dan kemenangan yang besar dalam menjalankan kehidupan dan juga merupakan obat dari keluh kesah yang dirasakan manusia dan sebaik-baik sarana untuk mencapai ketenangan jiwa. Hal ini dapat dilihat setelah mengkaji ayat-ayat al-Qurân dan hadits-hadits rasul yang menjelaskan hal yang demikian diantaranya firman Allah Subhânahu wa Ta’âla:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mu’min (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minuun: 1-2)
Dalam ayat yang lain Allah Ta’âla berfirman:
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang menegakkan shalat, yang mereka itu mengerjakan shalat secara terus-menerus.” (QS. al-Ma’aarij: 19-23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Diantara perkara dunia yang aku senangi adalah wanita dan wangi-wangian dan kesejukan pandanganku terdapat dalam shalat.” (HR. Ahmad, an-Nasa’I, al-Hakim dan al-Baihaqi)

8.      Begitu pentingnya ibadah shalat ini maka syari’at Islam sangat menaruh perhatian kepadanya sehingga shalat wajib dikerjakan baik seseorang adalah Musafir atau seorang Muqim (tidak dalam keadaan safar), dalam keadaan aman atau dalam keadaan ketakutan seperti dalam suasana perang dimana Rasulullah tetap melaksanakan shalat dan dalam keadaan sakit ataupun sehat

9.      Shalat adalah ibadah laksana pelita yang menerangi hidup seseorang. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat adalah pelita.” (HR. Muslim)

10.  Shalat sebagai salah satu sifat orang yang bertaqwa sebagaimana firman Allah Subhânahu wa Ta’âla:
“Alif laam miim. Kitab (al-Qurân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. al-Baqarah: 1-3)

 

http://dareliman.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=50&Itemid=67

Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Fikih