Al-Wa’du [Janji] dan Al-Wa’iid [Ancaman]

Termasuk dari prinsip-prinsip aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Beriman kepada nash-nash wa’ad (janji) (Al-Wa’du, yaitu nas-nash (al-Qur’an dan as-Sunnah) yang mengandung janji Allah kepada orang yang taat dengan ganjaran yang baik, pahala dan Surga) dan wa’iid (ancaman) (Al-Wa’id, yaitu nash-nash yang terdapat padanya ancaman bagi orang-orang yang berbuat maksiyat dengan adzab dan siksaan yang pedih). Ahlus Sunnah mengimaninya dan memberlakukannya sebagaimana datangnya, tidak menakwilkan (menyelewengkan) dan menetapkan nash-nash wa’ad dan wa’iid sebagaimana adanya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisaa’: 48 dan 116) Ahlus Sunnah meyakini bahwa akhir kehidupan seorang hamba tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, begitu juga tidak ada yang mengetahui dengan apakah seorang hamba mengakhiri (kehidupannya)? Akan tetapi barangsiapa yang menampakkan perbuatan kufur akbar (besar), maka akan dihukumi seperti itu pula dan akan diperlakukan sebagaimana orang kafir.

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seseorang berbuat seperti perbuatan penghuni surga, yang tampak  dihadapan manusia; padahal dia tergolong penghuni Neraka. Dan sesungguhnya seseorang berbuat seperti perbuatan penguhi Neraka, yang tampak di hadapan manusia; padahal dia tergolong penghuni Surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (HR. Al-Bukhari no. 2898, 4207, Muslim no. 112 (179) di Kitaabul Iimaan dan no. 2651 (12) di Kitaabul Qadar dan Ahmad (V/332) dari Sahabat Sahl bin Sa’d as-Sa’idi).

Nabi SAW juga bersabda, “Sesungguhnya ada diantara kalian seseorang yang melakukan perbuatan orang penguhi Surga, sehingga jarak antara dia  dengan Surga tinggal sehasta, tetapi ketentuan (Allah) telah mendahuluinya; maka dia pun melakukan (di penghujung hayatnya) perbuatan orang penghuni Neraka lalu dia memasukinya. Dan sesungguhnya ada di antar akalian seseorang yang melakukan perbuatan orang penghuni Neraka, sehingga jarak antara dia dengan Neraka tinggal sehasta, tetapi ketentuan (Allah) telah mendahuluinya; maka dia melakukan (dipenghujung hayatnya) perbuatan orang penguhi Surga lalu dia memasukinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (HR. Al-Bukhari no. 3208, 3332, 6594, 7454, Muslim no. 2643, Ahmad (I/382), Abu Dawud no. 4708, at-Tirmidzi no. 2137 dan Ibnu Majah no. 76 dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa barangsiapa meninggal dalam keaadan Islam dengan zhahir ke-Islamannya dari kalangan orang-orang Mukminin dan muttaqin secara umum, maka Insya Allah dia termasuk penguhi Surga. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan Surga-surga yang mengalir sungai-sungai di alamnya….” (Al-Baqarah: 25).

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu didalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi (Rabb) Yang Mahaberkuasa.” (Al-Qamar: 54-55).

Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa meninggal dan dia mengetahui bahwa ‘Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah maka pasti ia masuk Surga.” (HR. Muslim) (HR. Muslim no. 26 dan Ahmad (I/65, 69) dari Sahabat ‘Utsman bin ‘Affan).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa orang-orang kafir, musyrik dan munafik adalah para penghuni Neraka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 39).

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Allah Ta’ala berfirman pula, “Sesungguhnya orang-orang yang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka.” (QS. An-Nisaa’: 145)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah membenarkan berita tentang sepuluh orang yang dijamin masuk surga, seperti yang dinyatakan Rasulullah SAW kepada mereka. Setiap orang yang dinyatakan Nabi SAW akan masuk Surga maka demikian pula Ahlus Sunnah menyatakan pembenarannya. Nabi SAW bersabda, “Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, Az-Zubari, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah (semuanya) di Surga.” (Shahih Sunan Abi Dawud oleh Syaikh al-Albani). (HR. At-Tirmidzi no. 3747, lafazh hadits tersebut miliknya dan Ahmad (I/193) dari Sahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf, diriwayatkan pula oleh Abu Dawud no. 4649, Ibnu Majah no. 133, Ibnu Abi ‘Asihim dalam Kitaabus Sunnah no. 1430, 1433 dan Ahmad (I/187, 188,189) dari Sahabat Said bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Dishahihkan oleh Syaik al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ish Shaghiir no. 50 dan dimuat juga dalam Silsilatul Ahadiitsish Shahiihah jilid II hal. 531.

Sungguh telah terdapat persaksian (dijamin masuk) Surga, untuk banyak orang dri kalangan Sahabat seperti ‘Ukkasyah bin Mihshan, ‘Abdullah bin Sallam, keluarga Yasir, Bilal bin Rabah, Ja’far bin Abi Thalib, ‘Amr bin Tsabit, Zaid bin Haritsah, ‘Abdullah bin Rawahah, Fatimah puteri Rasulullah SAW Khadijah bintu Khuwailid, ‘Aisyah, Shafiyyah, Hafshah dan semua isteri Nabi SAW serta lain-lainnya.

Adapun bila ada nash yang menjelaskan bahwa ada orang-orang yang termasuk penghuni Neraka, maka kita menyatakan begi mereka seperti keterangan yang ada. Di antara mereka adalah Abu Lahab ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muthalib dan isterinya Ummu Jamil Arwa binti Harb dan selainnya ada orang -orang yang sudah ditetapkan sebagai penghuni Neraka.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak memastikan bagi orang tertentu siapapun orangnya dengan masuk Surga atau neraka, kecuali kalau Rasulullah  SAW telah memastikan baginya. Namun Ahlus Sunnah berharap bahwa orang  yang muhsin ( yang berbuat kabaikan untuk masuk Surga) dan cemas terhadap orang yang berbuat jelek. (Oleh karena itu, tidak dapat ditentukan bagi orang yang dibunuh atau wafat bahwa dia mati Syahid, karena niat itu tempat kambalinya hanya kepada Allah Ta’ala. Pendapat yang benar hendaknya dikatakan : “Kita memohon kapada Allah agar dia  digolongkan orang yang mati Syahid lalu kita menyatakan bahwa dia Insya Allah orang yang mati syahid dan kami tidak mensucikan seseorang disisi Allah ; maka hendaknya dengan shighah (bentuk do’a bukan dengan sihghah jazim (pemastian). Karana pemastian seperti ini termsuk berkata tanpa ilmu dihadapan Allah.

Ahlus Sunnah beri’tiqad bahwa seorang tidak dipastikan masuk Surga, walaupun amalnya baik kecuali jika Allah melimpahkan karunia- Nya kapdanya, lalu ia akan dapat masuk Surga karena rahmat – Nya. Allah Ta’ala berfirman, “…Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (An-Nuur: 21).

Nabi SAW bersabda, “Tiada seorangpun yang masuk surga karena amalnya” (Para Sahabat) bertanya: “Apakah engkau demikian pula, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Demikian pula ku kecuali Rabb-ku melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Muslim). (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816 (72) dari Sahabat Abu Hurairah, lafazh ini milik Muslim).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Tidak memastikan adzab bagi orang yang ditujukan ancaman kepadanya selama tidak kafir, karena kadang-kadang Allah mengampuninya dengan sebab perbuatan taatnya atau taubatnya, musibah atau penyakit yang dapat menghapus dosa-dosanya. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.'” (Az-Zumar: 53).

Nabi SAW bersabda, “Ketika seseorang berjalan lalu  ia dapati dahan yang berduri di tengah jalan, maka ia singkirkan dahan tersebut. Maka Allah memujinya lalu mengampuninya.” (HR. Al-Bukhari).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah beri’tiqad bahwa setiap makhluk punya ajal tertentu, dan setiap jiwa tidak akan wafat kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Apabila ajal mereka telah datang maka tidak ada yang dapat memunda ataupun memajukan barang sesaat pun. Jika ia wafat atau dibunuh maka sesungguhnya hal tersebut terjadi karena batas waktu yang ditentukan telah terakhir. Allah Ta’ala berfirman, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya….” (Ali ‘Imran: 145).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini kebenaran bahwa Allah Ta’ala telah menjanjikan Surga kepada kaum Mukminin, mengancam akan mengadzab orang-orang yang bertauhid namun masih melakukan kemaksiatan; dan mengadzab orang-orang kafir serta munafik dalam Neraka. Allah Ta’ala berfirman, ““Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, kelak akan Kami masukkan kedalam Surga yang mengalir sunga-sungai di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataanya daripada Allah.” (An-Nisaa’: 122)

Tetapi Allah Ta’ala mengampuni orang-orang yang bertauhid walaupun masih melakukan kemaksiatan dengan karunia dan kemuliaan-Nya. Allah Ta’ala telah menjanjikan ampunan bagi muwahhidin (orang-orang yang bertauhid) dan tidak memberi ampunan bagi selain mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguh Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya….” (An-Nisaa’: 48 dan 116).

Sumber: Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy(Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm.156 -163.

 

http://alislamu.com/aqidah/744-prinsip-keempat-beriman-kepada-nash-nash-waad-janji-dan-waiid-ancaman.html

Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Aqidah