Larangan Thiyarah/Tathayyur [Beranggapan Sial]

Allah SWT berfirman (artinya), “Mereka menjawab, ‘Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.’ Shalih berkata, ‘Nasibmu ada pada sisi Allah (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji’.” (An-Naml: 47). “Utusan-utusan itu berkata, ‘Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas’.” (Yaasiin: 19).

Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulaimi -dalam hadits Jariyah-, ia berkata (artinya), “Wahai Rasulullah, di antara kami masih ada yang suka bertathayyur (anggapan sial atau untung karena melihat burung tertentu, atau melihat kijang).” Rasulullah saw. menjawab, “Itu hanyalah sesuatu yang terlintas dalam hati mereka, maka janganlah sampai hal itu membuat mereka mengurung niatnya.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda, “Tidak ada ‘adwa (Penjangkitan atau penularan penyakit) dan thiyarah, akan tetapi yang membuat diriku senang adalah fa’l shalih, dan fai shalih adalah kalimah hasanah (kata-kata yang baik).” (Bukhari [5756] dan Muslim [2224]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak ada thiyarah! Yang paling baik adalah fa’l.’ Mereka bertanya, ‘Apa itu fa’l?’ Rasulullah menjawab, ‘Kata-kata yang baik yang kalian dengar’.” (HR Bukhari [5754] dan Muslim [2223]).

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada ‘adwa dan thiyarah! Syu’m (kesialan) itu ada pada tiga perkara, Wanita, rumah dan kendaraan.” (HR Bukhari [5753] dan Muslim [2225]).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Thiyarah adalah syirik, dan setiap orang pasti -pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini-. Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (Shahih, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [909], Abu Dawud [3910], Tirmidzi [1614], Ibnu Majah [3538], Ahmad [I/389, 483 dan 440], Ibnu Hibban [6122], Baghawi [3257], Hakim [I/17-18], dan Baihaqi [VIII/139]).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apakah tebusannya?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengucapkan, Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tiada Ilah yang haq kecuali Engkau.” (Shahih, HR Ahmad [II/220]).

Diriwayatkan dari Abud Darda r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda, “Tidak akan mencapai derajat yang tinggi orang yang melakukan praktik perdukunan, orang yang mengundi nasib dengan anak panah, dan orang yang menangguhkan safarnya karena bertathayyur.” (Hasan, lihat Silsilah al-Ahadiits ash-Shahihah [2161]).

Kandungan Bab:

     

  1. Tathayyur termasuk adat Jahiliyyah. Mereka biasanya berpatokan kepada burung-burung, jika mereka lihat burung itu terbang ke arah kanan, mereka bergembira dan meneruskan niat. Jika burung itu terbang ke kiri, mereka anggap membawa sial dan mereka menangguhkan niat. Bahkan, sebagian mereka sengaja menerbangkan burung untuk meramal nasib. Burung yang terbang ke arah kanan mereka sebut Saanih, sedang burung yang terbang ke arah kiri mereka sebut Baarih. Namun, tidak ada satu pun hujjah yang mendukung keyakinan mereka itu. Perbuatan itu sama dengan mencari ilmu tidak dari sumbernya. Jadi, hakikatnya adalah kejahilan dan kesesatan. Orang-orang pintar di antara mereka mengingkari perbuatan tersebut dan menganggapnya sebuah kejahilan belaka.Salah seorang penya’ir mereka berkata, “Zajr (menerbangkan burung untuk meramal nasib), tathayyur, dan perdukunan itu semuanya sesat. Sama sekali tidak dapat menyingkap pembendaharaan ilmu ghaib.”

    Penya’ir lain berkata, “Sungguh, wanita yang meramal dengan tharq (garis-garis di tanah) dan wanita yang meramal dengan zajr (menerbangkan burung) tidaklah mengetahui apa yang akan Allah takdirkan.”

  2. Syari’at yang hanif ini telah melarang segala macam bentuk tathayyur. Sebab, thair (burung) tidak memiliki keistimewaan apa pun sehingga gerak-geriknya harus dijadikan sebagai petunjuk untung rugi. Dalam banyak hadits, Rasulullah saw. telah menegaskan berulang kali, “Tidak ada thiyarah!” Penegasan seperti ini juga dinukil dari sejumlah Sahabat r.a.Penafian thiyarah ini tidaklah bertentangan dengan hadits Abdullah bin Umar r.a., “Syu’m (kesialan) ada pada tiga perkara; wanita, rumah, dan kendaraan.”

    Sebab, para perawi meriwayatkannya dengan lafazh yang berbeda satu sama lain. Ada yang meriwayatkan dengan lafazh, “Thiyarah ada pada wanita, rumah, dan kuda.” Ada pula yang menambahkan di awal matan yang menunjukkan penafian thiyarah dan syu’m. sebagaimana matan hadits yang kami sebutkan di awal bab. Dalam riwayat Ahmad dari Ibnu Umar diriwayatkan dengan lafazh, “Jika syu’m itu memang benar ada, maka hal itu ada pada wanita, kuda, dan rumah.”

    Sebenarnya, tambahan pada awal matan itulah yang benar, berdasarkan alasan berikut:

    1. Begitulah yang diriwayatkan oleh mayoritas perawi, riwayat mereka tentu lebih kuat karena jumlah mereka lebih banyak.
    2. Dalam riwayat Ahmad yang telah diisyaratkan tadi, ada tambahan dari Aisyah r.a. yang menceritakan tentang sebab musabab hadits tersebut. Dua orang lelaki dari suku Bani Amir menemui Aisyah dan mengabarkan kepadanya bahwa Abu Hurairah r.a. menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah saw. Kemudian mereka menyebutkan hadits di atas. Mendengar itu, Aisyah marah besar seraya berkata, “Demi Allah yang menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad! Rasulullah saw. tidak pernah mengatakan seperti itu, namun beliau berkata, “Dahulu, kaum Jahiliyyah bertathayyur dengan ketiga hal itu.”Dalam riwayat Ahmad dan Hakim diriwayatkan dengan lafazh, “Rasulullah saw. hanyalah mengatakan, ‘Orang-orang Jahiliyyah dahulu mengatakan, ‘Thiyarah itu ada pada wanita, rumah dan kendaraan.” Kemudian Aisyah membaca ayat, “Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh).” (Al-Hadiid: 22).
    3. Bukti lain yang menguatkan riwayat yang menafikan adalah larangan Rasulullah terhadap thiyarah dan syu’m secara umum dan pujian beliau terhadap orang-orang yang menjauhinya, beliau bersabda, “Tujuh puluh ribu orang akan masuk Jannah tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kay, tidak meminta ruqyah, tidak bertathayyur, dan hanya bertawakkal kepada Allah semata.”
    4. Bahkan sebaliknya, dalam sebuah hadits shahih justru hal itu dinafikan dan ditetapkan adanya keberkahan pada ketiganya, yakni, pada wanita, kuda, dan rumah. Dalam hadits Hakim bin Mu’awiyah, dari pamannya, Mukhammar bin Mu’awiyah, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad shahih, karena termasuk riwayat penduduk syam dari Isma’il bin Ayyasy, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak ada syu’m, terkadang keberkahan itu ada pada tiga perkara, wanita, kuda dan rumah’.”Jadi, jelaslah riwayat yang menetapkan adanya syu’m dan thiyarah (Syu’m ada pada tiga perkara -atau thiyarah ada pada tiga perkara-) -makna keduanya sama sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli ilmu-, adalah riwayat yang syadz dan lemah, wallaahu a’lam.

      Berdasarkan uraian di atas, makna hadits tersebut adalah, Rasulullah saw. melarang dan menafikan thiyarah dan syu’m. Kemudian beliau berkata, “Jika thiyarah itu memang benar ada, maka pada kuda, wanita, dan rumah.” Rasulullah saw. tidak mengatakan thiyarah itu ada pada ketiganya, namun beliau hanya mengatakan, “Jika ada, maka pada salah satu dari ketiganya.” Yakni, jika thiyarah (keberuntungan) itu memang ada, maka terdapat pada ketiga perkara tersebut. Dan jika tidak terdapat pada ketiganya, maka thiyarah itu tidak ada sama sekali, wallaahu a’lam.

      Al-Baghawi berkata dalam kitab Syarhus Sunnah (XII/178-179), “Ada yang mengatakan, sabda Nabi, ‘Jika thiyarah itu memang benar ada…’ merupakan bentuk pengalihan kalimat dari satu masalah ke masalah lain. Seolah beliau berkata, ‘Jika salah seorang dari kamu memiliki rumah yang tidak suka ia tempati, wanita yang tidak suka ia dampingi, atau kuda yang tidak menarik hatinya, maka hendaklah ia menyingkirkannya.’ Yakni dengan pindah ke rumah lain, menceraikan wanita itu atau menjual kudanya sehingga hilanglah perasaan tidak sukanya itu. Sebagaimana diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tinggal di sebuah rumah yang membawa berkah, anggota keluarga kami bertambah dan harta kami juga bertambah. Kemudian kami pindah ke rumah lain. Di rumah itu anggota keluarga kami berkurang dan harta kami pun berkurang.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Tinggalkanlah rumah sial itu.'”

      Rasulullah saw. memerintahkannya supaya meninggalkan rumah tersebut, karena timbul rasa keberatan dan kebencian dalam diri mereka untuk menempatinya, maka Rasulullah memerintahkan mereka pindah supaya perasaan tersebut hilang, bukan karena rumah itu penyebab kesialan mereka.

      Jika ada yang berkata, “Dalam hadits Abu Hurairah dan Anas bin Malik r.a. penafian thiyarah ini tidak mutlak, namun dikecualikan darinya fa’l shalih (harapan baik).” Saya katakan, sabda Nabi, “Tidak ada thiyarah, dan yang paling baik adalah fa’l.” tujuannya untuk menjelaskan dan mengungkap hakikat sebenarnya. Tujuan perkataan itu adalah untuk membantah anggapan orang-orang jahiliyah supaya tidak alergi menelitinya. Jika ia meneliti dan berlaku adil terhadap dirinya sendiri, ia pasti menerima kebenaran. Cara seperti ini digunakan untuk memancing minat orang untuk mendengar dan menerima perkataan. Jadi, maksudnya bukanlah thiyarah itu benar-benar baik, wallaahu a’lam.

  3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. menyukai fa’l dan membenci thiyarah.” (Shahih, HR Ibnu Majah [3536], Ahmad [II/332], dan Ibnu Hibban [6121]).Dalam hadits di atas jelas dibedakan antara fa’l dengan thiyarah dan penjelasan bahwa keduanya tidak sama. Rasulullah saw menyukai fa’l dan kata-kata yang baik karena alasan berikut:
       

    1. Allah telah menanamkan rasa suka dan cinta kepada kata-kata yang baik dalam fitrah menusia, sebagaimana Allah telah menanamkan rasa suka kepada pemandangan yang indah, wajah yang elok dan air dan jernih, meskipun ia tidak memilikinya dan tidak meminumnya. Termasuk di dalamnya; Apabila Rasulullah keluar rumah untuk suatu keperluan, beliau suka mendengar seruan, Ya Nujaih, ya Rasyid.
    2. Syu’m termasuk persangkaan buruk tanpa alasan terhadap Allah, sementara fa’l adalah persangkaan baik kepada-Nya atas segala keadaan yang terjadi.
    3. Fa’l dapat memotivasinya dalam menggapai keinginannya dan memperkuat tekadnya.
    4. Kata-kata yang baik tidaklah menimbulkan perasaan sial orang yang mendengarnya, seperti halnya kata-kata yang jelek. Sebagai buktinya, orang-orang yang mendengar kata-kata yang baik menganggapnya sebagai kabar gembira dari Allah SWT. sehingga ia pun memuji-Nya serta mengharapkan dengannya ia dapat memperoleh keinginannya berkat karunia dari Allah dan taufik-Nya, wallaahu a’lam.

    Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 119-126.

    Oleh: Fani

Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Aqidah