Al-Wala’ wal Bara’

Setiap muslim yang meyakini kebenaran Aqidah Islamiyah mempunyai kewajiban untuk selalu menolong dan berloyalitas terhadap saudara-saudaranya se-Aqidah Islamiyah serta memusuhi musuh-musuh mereka ; mencintai ahli tauhid serta ikhlas kepada mereka dan membenci orang-orang musyrik serta memusuhi mereka.

Yang demikian itu, adalah merupakan dien Nabi Ibrahim Alaihissalam beserta orang-orang yang bersama beliau yang kita semua diperintahkan untuk mengambil contoh yang baik dari mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kum mereka : “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah Ta’ala saja”. [Al-Mumtahanah : 4]

Persoalan ini juga merupakan dien Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) ; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. [Al-Maidah : 51].

Ayat ini menerangkan tentang haramnya berloyalitas khusus kepada ahli kitab (Yahudi dan Nashrani). Adapun ayat yang menerangkan haramnya berloyalitas kepada umumnya orang-orang kafir. Allah berfirman :

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian mengambil musuh-Ku dan musuh-mu sekalian menjadi teman-teman setia”. [Al-Mumtahanah : 1]

Bahkan, sungguh Allah Ta’ala haramkan kepada orang-orang yang beriman untuk berloyalitas terhadap orang-orang kafir, walau mereka adalah kerabat yang paling dekat. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu, pemimpin-pemimpinmu, jika mereka mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”. [At-Taubah : 23].

Dan Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka”. [Al-Mujadalah : 22].

Betapa banyak orang-orang Islam yang tidak faham terhadap dasar-dasar agama yang agung ini sampai-sampai saya pernah mendengar sebagian orang Islam yang berkecimpung dalam bidang keilmuan dan dakwah pernah berkata dalam siaran radio bahasa Arab tentang orang-orang Nasrani dengan kata-kata : “Sesungguhnya mereka adalah saudara kita”. Sungguh suatu kata-kata yang sangat berbahaya.

Sebagaimana Allah Ta’ala telah mengharamkan berloyalitas terhadap orang-orang kafir, karena mereka adalah musuh-musuh Aqidah Islamiyah ini, maka Allah Ta’ala telah mewajibkan untuk berloyalitas terhadap orang-orang yang beriman serta mencintai mereka. Allah berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang”. [Al-Maidah : 55-56].

Dan Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. [Al-Fath : 29]

Dan Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”. [Al-Hujurat : 10].

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara, baik dalam dien maupun dalam aqidah, meskipun berbeda nasab dan masa hidupnya serta berjauhan tempat tinggal mereka satu sama lain.

Allah berfirman :

“Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan jangan Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [Al-Hasyr : 10].

Mereka senantiasa saling mencintai, walaupun tempat-tempat tinggal mereka berjauhan dan zaman mereka berbeda, orang-orang yang terakhir mengambil contoh yang baik dari orang-orang sebelumnya, sebagian mereka mendo’akan dan memintakan ampun untuk sebagian yang lain.

Adapun bentuk-bentuk perwala’an (loyalitas) terhadap orang-orang yang beriman telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu :

Pertama.
Berhijrah ke negara kaum muslimin, dan meninggalkan negara orang-orang kafir, hijrah artinya pindah dari negara orang-orang kafir ke negara kaum muslimin untuk menyelamatkan Ad-Dien.

Dan hijrah dalam artian serta untuk tujuan ini hukumnya wajib sampai terbitnya matahari dari arah barat ketika Hari Kiamat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim di antara orang-orang musyrikin, maka haram bagi seorang muslim bermukim di negara-negara kafir, kecuali jika tidak mampu berhijrah dari tempat itu, atau dalam bermukimnya itu terdapat maslahat Ad-Dien, misalnya berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini’. Mereka menjawab :’Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’.Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu’. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk- buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun”. [An-Nisa : 97-99].

Kedua
Membantu dan menolong kaum muslimin dalam urusan dien dan duniawi baik dengan jiwa, harta, juga dengan lisan (perkataan/ucapan). Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain”. [At-Taubah : 71].

Dan Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka”. [Al-Anfal : 72].

Ketiga
Merasa sakit atas penderitaan mereka, serta berbahagia dengan kebahagian mereka.

Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Perumpamaan kaum muslimin dalam cinta kasih, dan lemah lembut serta saling menyayangi antara mereka seperti satu jasad (tubuh) apabila satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh jasadnya ikut merasa sakit”.

Dan beliau bersabda :

“Artinya : Seorang mukmin dan mukmin lainnya adalah bagaikan suatu bangunan yang sebagiannya menutup bagian lainnya (seraya/sambil merapatkan antara jari-jari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Keempat.
Memberi nasehat serta mencintai kebaikan mereka serta tidak menghina dan tidak menipu mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Artinya : Tidaklah seorang di antara kamu beriman sehingga ia mencintai saudaranya melebihi cintanya terhadap dirinya sendiri”.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain ; tidak meremehkannya, dan tidak menghinanya serta tidak menyerahkannya (kepada musuh), betapa buruknya jika seorang menghina (meremehkan) saudaranya yang muslim ; segala yang ada pada seorang muslim adalah haram pada muslim lainnya baik darahnya, hartanya, dan harga dirinya”.

Dan besabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Janganlah kalian saling membenci, saling bermusuhan, saling memata-matai dan janganlah sebagian kamu menjual (berakad) terhadap (akad) lainnya, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”.

Kelima
Menghormati dan memuliakan mereka serta tidak mengurangi kehormatan mereka.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. [Al-Hujurat : 11-12].

Keenam
Senantiasa menyertai mereka baik dalam keadaan sulit maupun lapang. Berbeda dengan orang-orang munafik yang hanya menyertai orang-orang yang beriman dalam keadaan mudah dan senang saja dan meninggalkan mereka dalam keadaan susah.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : (Yaitu) orang-orang yang menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata :’Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?’. Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata :’Bukankah kami turut memenangkan kamu, dan membela kamu dari orang-orang yang beriman”. [An-Nisa : 141].

Ketujuh
Menziarahi/mengunjungi mereka dan senang bertemu dengan mereka serta senantiasa berkumpul bersama mereka. Disebutkan dalam hadits Qudsy:

“Artinya : Kewajiban cintaku bagi orang-orang yang saling berkunjung kepada-Ku”.

Di dalam hadits lain disebutkan :

“Artinya : Bahwa seorang laki-laki hendak mengunjungi saudaranya karena Allah Ta’ala, lalu diutuslah oleh Allah Ta’ala seorang malaikat untuk mengikuti perjalanannya seraya bertanya :’Hendak kemanakah engkau ?’. Laki-laki itu menjawab :’Aku akan mengunjungi saudaraku karena Allah Ta’ala’. kemudian malaikat itu bertanya lagi :’Apakah kunjunganmu disebabkan suatu nikmat yang engkau harapkan dari padanya ?’ Laki-laki itu menjawab:’ Tidak, tapi semata-mata dikarenakan aku mencintainya karena Allah Ta’ala.’Malaikat berkata :’Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang diutus kepadamu untuk menyampaikan kepadamu bahwa Allah Ta’ala mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya”.

Kedelapan
Menghormati hak-hak mereka dengan tidak menjual (berakad) atas akad mereka, tidak menawar terhadap tawaran mereka, tidak melamar terhadap lamaran mereka dan tidak menghalangi apa yang telah mereka dapatkan dari hal-hal yang mubah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Janganlah seseorang menjual (berakad) atas akad saudaramu. Dan janganlah melamar atas lamaran saudaranya”.

Dan dalam riwayat lain disebutkan :

“Artinya : Dan janganlah menawar atas tawaran saudaranya”.

Kesembilan
Bersikap lemah lembut terhadap orang lemah di antara mereka, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Bukanlah dari golongan kami siapa saja yang tidak menghormati yang lebih besar dan menyayangi yang lebih kecil”.

Dan bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Kalian mendapatkan pertolongan dan mendapatkan rizki tidak lain karena orang-orang lemah diantara kalian”.

Dan Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya ; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini”. [Al-Kahfi : 28].

Kesepuluh
Mendo’akan mereka dan memintakan ampun bagi mereka. Allah berfirman :
“Artinya : Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan”. [Muhammad : 19].

Catatan :
Adapun firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. [Al-Mumtahanah : 8].

Maksudnya adalah bahwa siapa saja dari orang-orang kafir yang berhenti (tidak) menyakiti kaum muslimin dengan tidak memerangi dan mengeluarkan mereka dari negeri-negeri mereka, maka seyogyanya kaum muslimin membalas dengan berbuat baik dan adil terhadapnya dalam bermua’malah (bergaul) pada urusan-urusan duniawi tanpa mencintainya dengan hati mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman : “berbuat baik dan berlaku adillah kepada mereka (orang-orang kafir)”. dan tidak berfirman : “Tolong dan cintailah mereka”.

Dan seperti (sebagaimana) ini juga, firman Allah Ta’ala dalam masalah kedua orang tua :

“Artinya : Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku”. [Luqman : 15].

Telah datang ibu Asma’ kepada Asma’ (binti Abu Bakar Ash-Shiddiq) meminta kepadanya agar tetap menjalin hubungan (silaturahmi) dengannya padahal ibunya itu masih dalam keadaan kafir, lalu Asma’ Radhiyallahu anha meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya (Asma’) : ” Sambunglah tali silaturahmi dengan ibumu”.

Menjalin tali hubungan (silaturahmi) dan kemaslahatan dunia (balasan dunia) adalah satu urusan adapun kecintaan adalah satu sisi yang berbeda karena di dalam menjalin tali silaturahmi dan bagusnya pergaulan akan mendorong kepada orang kafir untuk masuk Islam ; jadi keduanya (tali silaturahmi dan bagusnya pergaulan) merupakan sarana dakwah ; berbeda dengan kecintaan dan berloyalitas, yang keduanya menunjukkan tanda setuju terhadap keadaan orang kafir dan ridha terhadapnya, yang menyebabkan seseorang tidak dapat mengajak orang kafir untuk masuk Islam.

Begitu juga diharamkannya berloyalitas (berwala’) kepada orang kafir itu bukan berarti haram pula untuk bermuamalah dengan mereka dalam urusan bisnis yang dihalalkan seperti mengekspor barang-barang dan hasil-hasil yang bermanfaat juga tidak dilarang bagi setiap muslim untuk mengambil manfaat dari pengalaman pengalaman serta penemuan-penemuan mereka ; sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyewa Ibnu Uraiqith Al-Laitsy sebagai penunjuk jalan padahal dia kafir. Juga beliau pernah berhutang dari sebagian orang-orang Yahudi. Pada waktu kaum muslimin masih mengimpor barang-barang dan hasil-hasil dari orang kafir, namun demikian ini merupakan bentuk jual beli dengan mereka. Mereka tetap tidak ada keutamaannya bagi kita, dan hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan kecintaan dan perwala’an (perloyalitas) terhadap mereka, karena Allah Ta’ala telah mewajibkan untuk mencintai dan berwala’ kepada orang- orang yang beriman serta membenci dan memusuhi orang-orang kafir.

Allah berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. [Al-Anfal : 72]

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : “Makna dari ayat tadi ialah : “Jika kamu tidak mengesampingkan orang-orang musyrik lalu berwala’ kepada orang-orang beriman, jika itu tidak kalian lakukan pasti akan terjadi fitnah terhadap manusia yaitu bersatunya segala urusan dan campurnya orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir akhirnya akan terjadi di antara manusia kerusakan yang terus tersebar dan tidak ada henti-hentinya”.

Saya katakan : Hal inilah yang telah terjadi pada zaman (ini) hanya Allah-lah tempat meminta pertolongan.

Adapun dari bentuk-bentuk loyalitas terhadap orang kafir yaitu :

Pertama
Menyerupai mereka dalam berpakaian, ucapan dan lainnya ; karena yang demikian itu menunjukkan cinta orang yang menyerupai terhadap yang diserupai. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”.

Maka diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka dalam bidang ; adat istiadat, ibadah, dan sifat-sifat serta tingkah laku mereka, seperti : mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbahasa dengan bahasa mereka, kecuali jika diperlukan, berpakaian, makan, minum dan lainnya.

Kedua
Bermukim (tinggal) di negara mereka dan tidak pindah (hijrah) dari negara tersebut ke negara kaum muslimin untuk menyelamatkan Ad-Dien, sebab berhijrah untuk tujuan tersebut merupakan kewajiban bagi seorang muslim, dan berdiamnya seorang muslim di negara kafir menunjukkan loyalitasnya terhadap orang kafir. Maka dari itu Allah Ta’ala mengharamkan bermukimnya orang muslim diantara orang-orang kafir apabila ia mampu untuk berhijrah.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya :’Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?’ Mereka menjawab : ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah)’. Para malaikat berkata :’Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. [An-Nisa’ : 97-99].

Allah Ta’ala tidak menerima alasan setiap muslim yang bermukim di negara orang kafir kecuali mereka lemah, yang tidak mampu untuk berhijrah, juga orang-orang yang bermukimnya ada kemaslahatan Ad-Dien, misalnya berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam, di negara mereka.

Ketiga
Bepergian ke negara mereka dengan tujuan wisata dan rekreasi.

Bepergian ke negara orang kafir diharamkan kecuali dalam keadaan darurat, seperti berobat, berdagang, dan belajar ilmu-ilmu tertentu yang bermanfaat, yang tidak mungkin didapatkannya kecuali dengan pergi ke negeri mereka. Hal itu dibolehkan sebatas keperluan, dan jika keperluannya telah selesai, maka wajib kembali lagi ke negara kaum muslimin. Diperbolehkannya seseorang untuk bepergian ke negara orang kafir disyaratkan juga untuk senantiasa memperlihatkan identitas diennya, serta bangga dengan ke-Islamannya. Ia harus menjauhi tempat-tempat maksiat dan berhati-hati dari segala bentuk tipu daya para musuh-musuhnya juga diperbolehkan atau bahkan wajib bepergian ke negara mereka jika bertujuan untuk berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam.

Keempat
Bentuk yang lain adalah membantu dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum muslimin, memuji-muji dan membela mereka, hal ini merupakan bagian dari rusaknya aqidah ke-Islaman, juga penyebab dari kemurtadan. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.

Kelima
Dan dari bentuk yang lain juga adalah, meminta bantuan kepada mereka, percaya dan memberikan jabatan-jabatan yang didalamnya terdapat rahasia-rahasia kaum muslimin, dan menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan serta teman bertukar fikiran.

Allah berfirman :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata : ‘Kami beriman’; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah dan bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka) : ‘Matilah kamu karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya”. [Ali Imran : 118-120].

Ayat-ayat mulia tersebut di atas menjelaskan isi hati orang-orang kafir serta kebencian yang mereka sembunyikan terhadap kaum muslimin, dan apa yang mereka rencanakan untuk melawan kaum muslimin dengan tipu muslihat serta penghianatan. Juga mereka senantiasa menimpakan madharat terhadap kaum muslimin dengan senantiasa menggunakan segala cara (sarana) untuk menyakiti orang-orang yang beriman. Dan sungguh mereka selalu memanfaatkan kepercayaan kaum muslimin terhadap mereka, lalu mereka berencana untuk menimpakan bahaya terhadap kaum muslimin.

Imam Ahmad Rahimahullah telah meriwayatkan sebuah atsar dari sahabat Abu Musa Al-‘Asyary Radhiyallahu anhu beliau berkata : Aku pernah berkata kepada Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu : Aku mempunyai seorang sekretaris seorang Nasrani, Umar bin Khatthan Radhiyallahu anhu berkata : Apa-apaan kamu ini, celakalah engkau ! Tidaklah engkau pernah mendengar firman Allah Ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu) ; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain”. [Al-Maidah : 51] Apakah tidak mengambil orang muslim saja ? Lalu Abu Musa berkata : “Kukatakan ‘Wahai Amirul Mukminin bagiku tulisannya dan baginya agamanya ! Serentak Umar bin Khatthab berkata : ‘Aku tidak akan menghormati mereka, sebab Allah Ta’ala telah menjadikan mereka hina, dan aku tidak akan memuliakan mereka sebab Allah telah menjadikan mereka rendah ; dan aku tidak akan mendekati mereka sebab Allah Ta’ala telah menjauhkan mereka (menjadikan mereka sangat Jauh)”.

Dan Imam Ahmad juga Imam Muslim meriwayatkan :

“Artinya : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Badar, lalu seorang laki-laki musyrikin mengikuti beliau, kemudian bertemulah di suatu tempat (bernama Hirrah), seraya berkata : “Sesungguhnya aku ingin ikut dan terluka bersamamu”, bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berimankah kamu kepada Allah dan rasul-Nya ? Laki-laki itu berkata : “Tidak” kemudian Nabi Shallallahu alihi wa sallam bersabda : “Pulanglah kamu, sekali-kali aku tidak minta tolong kepada orang musyrik”.

Dan dari nash-nash tersebut di atas jelaslah bagi kita haramnya memberikan pekerjaan-perkerjaan kaum muslimin kepada orang kafir, yang dengan sarana itu memungkinkan orang kafir untuk menyelidiki keadaan dan rahasia-rahasia kaum muslimin serta mengadakan tipu daya yang membahayakan mereka.

Diantara contoh yang gamblang yang terjadi akhir-akhir ini yaitu dengan didatangkannya orang-orang kafir ke negara kaum muslimin (Negeri dua tanah haram yang suci) lalu mereka dijadikan pekerja-pekerja, supir-supir, pembantu-pembantu, dan baby sitter-baby sitter di rumah mereka sehingga mereka berbaur dalam satu rumah tangga kaum muslimin yang tinggal di negera tersebut.

Keenam
Menggunakan kalender mereka khususnya kalender yang mencatat hari-hari suci dan hari-hari besar mereka, seperti kalender masehi yang menyebutkan peringatan Hari Kelahiran Al-Masih Alaihissalam, yang hari raya itu adalah bid’ah yang mereka ada-adakan, dan bukanlah dari dien (ajaran) Al-Masih Alaihissalam. Maka dengan memakai kalender tersebut merupakan keikutsertaan dalam menghidupkan syi’ar dan hari besar mereka. Untuk menghindari masalah ini maka para sahabat Radhiyallahu anhum berkeinginan untuk menentukan kalender bagi kaum muslimin pada masa Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu ; mereka berpaling dari kalender orang kafir dengan membuat kalender yang permulaannya dihitung dari hari hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal tersebut untuk menunjukkan wajibnya menyelisihi orang-orang kafir dalam masalah ini dan masalah-masalah lain yang merupakan kekhususan mereka, hanya Allah lah tempat mohon pertolongan.

Ketujuh
Keikutsertaan kaum muslimin di hari-hari besar orang-orang kafir ; membantu mereka dalam menyelenggarakan dan penyelenggaraannya, memberikan ucapan selamat pada hari itu atau mendatangi undangan pada hari diselenggarakannnya ucpacara pada hari itu. Firman Allah Ta’ala yang berbunyi : “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu”, telah ditafsirkan bahwa dari sifat hamba-hamba adalah sesungguhnya mereka tidak mendatangi hari-hari besar orang kafir.

Kedelapan
Memuji dan terpesona atas kemajuan mereka serta kagum atas tingkah laku dan kepandaian mereka tanpa melihat kepada aqidah-aqidah yang bathil dan nama mereka yang rusak.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal”. [Thaha : 131]

Ayat tersebut tidak dapat diartikan bahwa kaum muslimin dilarang untuk mengetahui rahasia sukses mereka dengan jalan belajar dibidang-bidang perindustrian (senjata dan lain-lain), dasar-dasar ekonomi yang tidak dilarang oleh syari’ah serta strategi-strategi kemiliteran, bahkan semua itu merupakan persoalan yang dituntut oleh Islam.

Allah berfirman.

“Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”. [Al-Anfal : 60]

Pada dasarnya hal-hal yang bermanfaat diatas dan juga rahasia-rahasia alam ini pada dasarnya diciptakan Allah Ta’ala unuk kaum muslimin.

Allah berfirman

“Artinya : Katakanlah :’Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik ?’. Katakanlah : ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orng-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. [Al-A’raf : 32]

Dan Allah berfirman.

“Artinya : Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya”. [Al-Jatsiah : 13].
Allah berfirman.

“Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. [Al-Baqarah : 29].

Maka merupakan suatu kewajiban bagi kaum muslimin untuk bersaing dalam menggali manfaat-manfaat dan potensi ini dan tidak perlu meinta-minta kepada orang kafir untuk mendapatkannya, mereka wajib memiliki pabrik-pabrik dan teknologi-teknologi canggih.

Kesembilan
Memberi nama dengan nama-nama mereka (orang kafir) ; mereka (sebagian kaum muslimin) memberi nama anak laki-laki dan anak perempuannya dengan nama-nama asing dan meninggalkan nama-nama bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, nenek-nenek, serta nama yang dikenal di masyarakat mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdur Rahman”.
Dan akibat perubahan nama-nama tersebut, telah didapatkan suatu generasi yang mempunyai nama-nama aneh, hal tersebut menyebabkan terpisahnya generasi ini dengan generasi-generasi sebelumnya serta terputusnya hubungan baik antar keluarga yang sudah dikenal dengan nama-nama khusus mereka.

Kesepuluh
Memintakan ampun dan memintakan rahmat bagi mereka, yang hal itu telah diharamkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya.

“Artinya : Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam”. [At-Taubah : 113].

Manusia dalam loyalitas dan perlepasan diri terbagi dalam tiga kelompok.

Pertama
Orang yang dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak dicampuri dengan permusuhan ; mereka itulah orang-orang beriman yang ikhlas ; yang terdiri dari para nabi, shiddiqin (orang-orang yang selalu membenarkan), para syuhada’ (orang-orang yang mati dalam peperangan/mati syahid), dan orang-orang yang shalih, yang berada di barisan paling depan di antara mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kecintaan kepada beliau haruslah lebih besar dibanding dengan kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia, kemudian (kecintaan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) kepada isteri-isteri beliau Ummahatul Mukminin, Ahli Bait-nya (keluarganya) yang baik, Sahabat-sahabat beliau yang mulia, khususnya para Khulafaur Rasyidin, sepuluh orang Sahabat (yang dijanjikan bagi mereka jannah), kaum Muhajirin, kaum Anshar, Ahli Badar, Ahlu Baitur Ridwan (yang ikut Bai’at Ridwan), kemudian seluruh sahabat, para Tabi’in, dan yang hidup pada masa yang diutamakan oleh Allah dan para Salaf yang shalih serta imamnya seperti empat orang imam madzhab, (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad Rahimahullah).

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [Al-Hasyr : 10]

Tidak akan ada orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan membenci para sahabat dan salaf yang shalih dari umat ini, hanya orang-orang yang menyeleweng, orang-orang yang munafik dan musuh-musuh Islam-lah yang membenci mereka seperti kaum Rafidhah dan kaum Khawarij. Kepada Allah-lah kita mohon ampunan.

Kedua
Orang yang dibenci dan dimusuhi secara totalitas tanpa adanya kecintaan dan perwala’an. Mereka itu adalah orang yang betul-betul ingkar dari kalangan orang-orang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang munafik, dan orang-orang murtad, serta orang-orang yang tidak mengakui adanya Allah Ta’ala. Dengan berbagai macam bentuk kelompoknya.

Firman Allah.

“Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka”. [Al-Mujadilah : 22].

Dan Allah berfirman tentang pencelaan kepada Bani Israil.

“Artinya : Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka ; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik”. [Al-Maidah : 80-81]

Ketiga
Adalah orang yang dicintai dari satu segi dan dibenci dari segi lain sehingga terpadu padanya kecintaan dan permusuhan. Mereka itu adalah orang-orang mukmin yang durhaka : mereka dicintai karena adanya keimanan dan dibenci karena adanya kedurhakaan yang tidak menjadikan mereka kafir dan musyrik.

Kecintaan terhadap mereka mengharuskan untuk menasehati dan mengingkari mereka ; maka tidak diperbolehkan seseorang diam atas kemaksiatan yang mereka lakukan, tetapi harus diingkari, diperintah untuk berbuat kebaikan, dilarang untuk melakukan kemungkaran serta dilaksanakan had-had (hukuman berat) dan ta’zir-ta’zir (hukuman ringan/peringatan) terhadapnya sampai mereka berhenti dari kemaksiatan dan bertobat dari dosa-dosa. Akan tetapi mereka tidak boleh secara mutlak dibenci dan dijauhi ; sebagaimana perkataan kaum Khawarij terhadap orang yang melakukan dosa besar yang tidak menjadikan pelakunya menjadi musyrik. Namun, juga tidak dicintai dan diwala’i secara mutlak ; sebagaimana perkataan kaum Murji’ah. Tetapi kita bersikap adil dalam menilai mereka sebagaimana yang kami sebutkan tadi. Dan itu adalah (merupakan) Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Cinta karena Allah dan benci karena Allah merupakan tali keimanan yang paling kuat, dan seseorang itu bersama orang yang ia cintai pada hari kiyamat ; sebagaimana disebutkan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh keadaan telah banyak berubah. Pada umumnya kecintaan dan kebencian seseorang kepada yang lain semata-mata didasari nilai-nilai keduniaan.

Seseorang yang mempunyai nilai-nilai keduniaan maka ia dicintai walaupun ia adalah musuh Allah dan Rasul-Nya ; sebaliknya seseorang yang tidak memiliki nilai-nilai keduniaan ia dibenci meskipun ia kekasih Allah dan Rasul-Nya, sebab nilai-nilai yang paling rendah, sempit dan hina.

Abdullah bin Abbas berkata : “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, ber-wala’ karena Allah, ber-baro’ karena Allah, maka dengan itulah ia akan memperoleh perwalian dari Allah. Sungguh nilai-nilai persaudaraan saat ini pada umum-nya ditegakkan di atas nilai-nilai dunia dan kebendaan yang sungguh tidak akan mendatangkan manfaat sama sekali bagi siapapun”.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah telah berfirman : ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku umumkan perang terhadapnya”. [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

Manusia yang paling keras peperangannya terhadap Allah adalah orang-orang yang memusuhi, mencela, meremehkan para shahabat Rasulullah. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : ” Ya Allah (jagalah) shahabat-shahabatku, jangan kalian jadikan mereka sebagai musuh, maka barangsiapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku dan barangsiapa yang menyakiti aku berarti ia telah menyakiti Allah dan barangsiapa yang menyakiti Allah, dikhawatirkan akan disiksa”. [Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan yang lain].

Memusuhi dan menghina shahabat telah dijadikan dien dan aqidah oleh sebagian kelompok-kelompok sesat. Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya, dan adzab-Nya yang pedih dan kita memohon kepada-Nya ampunan dan kesejahteraan-Nya.

Amin…

[Disalin dari buku Al-Wala’ dan Al-Bara’ Tentang Siapa yang Harus Dicintai dan Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Endang Saefuddin.]

 

Sumber: http://www.almanhaj.or.id

Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Aqidah