Keutamaan Sifat Diam

Firman Allah,

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد .

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18).
Nabi saw bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقــل خيرا أو ليصمت .

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (Muttafaq alaihi).
Imam an-Nawawi berkata, “Hadits ini secara jelas menyatakan bahwa hendaknya seseorang tidak berbicara kecuali jika bicara adalah baik yakni terlihat kemaslahatannya. Jika dia ragu terhadap kemaslahatannya maka tidak berbicara.”
Seorang laki-laki duduk di samping asy-Sya’bi, salah seorang tabiin dengan harapan mendengar ucapan-ucapan asy-Sya’bi yang berharga, tetapi harapannya tidak terwujud. Asy-Sya’bi terus diam, laki-laki itu bertanya, “Mengapa Anda tidak berbicara?” Asy-Sya’bi menjawab, “Aku diam dan aku selamat, aku mendengar dan aku mengetahui. Bagian seseorang itu pada telinganya, sementara lisannya adalah untuk orang lain.” Orang bijak berkata, “Allah menciptakan uintukmu dua telinga dan satu lidah agar apa yang kamu dengar dua kali lipat apa yang kamu ucapkan.”
Seorang laki-laki bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz, “Kapan aku berbicara?” Umar menjawab, “Jika kamu ingin diam.” Laki-laki itu bertanya, “Kapan aku diam?” Umar menjawab, “Jika kamu ingin berbicara.”

 

 

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatsastra&id=4

Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

One comment on “Keutamaan Sifat Diam

  1. Ping-balik: Belajar Akhlak Islam secara Praktis dan Sistematis! « Stoenitself's Blog

Komentar ditutup.