Yakin

Ketakwaan sangat penting bagi seorang muslim yang ingin mencapai kebahagian dunia dan akherat. Namun tentunya hal ini membutuhkan rasa yakin yang tinggi terhadap Allah, janji-janjinya serta semua yang Allah tetapkan sebagai hadiah ketakwaaan.

Apa itu rasa yakin?

Yakin yang bagaimana yang dituntut dari seorang hamba dalam mencapai keimanan dan ketakwaannya? Satu pertanyaan yang mungkin dianggap ringan namun ternyata masih banyak orang yang tidak mampu menjawabnya.

Yakin adalah tingkatan tertinggi dan sempurna dari ilmu, yaitu kekuatan dalam ilmu yang dibangun diatas dalil yang benar dan pemahaman yang tepat. (Lihat Nasihatun Lisy Syabab, Syeikh Ibrahim Ar- Ruhaili hal. 9).

Sehingga dikatakan ia adalah ilmu pengetahuan yang tidak ada sedikitpun keraguan dan keyakinan yang sesuai dengan realitasnya. (Bahjah An-Nazhirin, 1/149). Baca lebih lanjut

Iklan
By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Wala’ dan Bara’

Allah Azza wa Jalla mewajibkan kita agar memiliki al-wala` kepada kaum Muslimin, dan al-bara` terhadap orang-orang kafir.

Allah berfirman :
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya (wali yang ditaati), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.[al-Mâidah/5:55-56]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka” [Ali ‘Imrân/3:28]

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. [al-Mumtahanah/60:4].

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah Rabb) yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu”. [az-Zukhrûf/43:26-28].

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang, yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah”. [al-Mujâdilah/58:22]. Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Al-Waqar [Bersikap Tenang]

Al-Waqar adalah sebagaimana didefinisikan oleh Al-Jahizh : “Al-Waqar adalah menahan diri dari berbicara secara berlebihan, kesia-siaan, banyak menunjuk dan bergerak dalam perkara yang tidak membutuhkan gerakan ; sedikit amarahnya, tidak banyak bertanya, menahan diri dari menjawab, menjaga diri dari ketergesaan, dan bersegera dalam seluruh perkara.” [Tahdzibul Akhlaq ; hal.22] Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Al-Wafa [Menepati Janji]

Dalil-dalil tentang tepat janji

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [٢:٤٠]

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS. Al-Baqarah: 40) Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Wara’

Landasan Utama

Sifat wara’ dan sikap meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat dilandasi oleh sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam yang sangat terkenal, yaitu yang diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, ‘Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas. Sedangkan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar (syubhat), tidak diketahui oleh banyak orang; siapa saja yang menjauhi syubhat tersebut, maka ia telah berlepas diri bagi agama dan kehormatannya, dan siapa saja yang terjerumus ke hal yang syubhat, maka berarti ia telah terjerumus ke dalam hal yang haram, ibarat seorang penggembala yang menggembala di seputar pagar larangan di mana hampir saja gembalanya memakan tumbuhan yang ada di dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki pagar larangan. Ketahuilah bahwa pagar larangan Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah hal-hal yang diharamkan nya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging; bila ia baik, maka baiklah seluruh jasad dan bila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa ia adalah qalbu.” (Muttafaqun ‘alaih) Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Hijrah kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya

Di dalam Risalah Tabukiyah, Imam Ibnul Qoyyim membagi hijrah menjadi 2 macam. Pertama, hijrah dengan hati menuju Alloh dan Rosul-Nya. Hijrah ini hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap orang di setiap waktu. Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari negeri kafir menuju negeri Islam. Diantara kedua macam hijrah ini hijrah dengan hati kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah yang paling pokok. Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Saling Menasehati [At-Tanaashuh]

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita untuk saling memberi nasehat sebagaimana firman Allah dalam kitab-Nya :

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan kerugian yang nyata kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran ( QS Al-asr1-3) Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Rajinlah! Jangan Malas!

Lebih sering rehat dan berpangku tangan, menunda pekerjaan, bekerja tanpa ruh dan kesungguhan adalah gejala penyakit kaslaan, malas. Dia hanya bersemangat dalam satu hal, yakni sesuatu yang sesuai dengan selera nafsunya. Tapi sayang, nafsu itu cenderung kepada keburukan (ammaratun bis suu’), atau paling tidak, menyenangi hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Berlawanan dengan nasyath yang bermakna enerjik, rajin, dan beraktivitas dengan penuh kesungguhan. Nasyath mengandung asumsi rajin dalam menunaikan hal-hal yang mengandung dan atau mengundang maslahat.

Biang Kerugian Dunia dan Akhirat

Ibnu Hajar al-Asqalalani dalam Fathul Bari, mendefinisikan sifat malas,

اْلكَسْلُ تَرْكُ الشَّيْءِ مَعَ اْلقُدْرَةِ عَلَى اْلأَخْذِ فِي عَمَلِهِ

“Malas adalah meninggalkan sesuatu (yang baik) padahal ia mampu melakukannya.” Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Ma’rifatullah [Mengenal Allah]

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’âla  yang telah mengajarkan hamba-hamba-Nya apa-apa yang tidak dia ketahui,kemudian shalawat beserta salam tercurahkan kehadirat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya y dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman.    Ma’rifatullah atau mengenal Allah ‘Azza wa Jalla merupakan satu perkara wajib yang mesti diketahui oleh seorang muslim karena tanpa mengenal Allah Subhanahu wa Ta’âla tidak akan mungkin bisa diraih kebahagian hidup, surga Allah Subhanahu wa Ta’âla. Seseorang yang tidak mengenal Allah Subhanahu wa Ta’âla dengan benar tidak akan mengerti hakekat hidup yang sesungguhnya, dalam artian siapakah dia, untuk apa ia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’âla. Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak

Bersegera dalam Kebaikan

Allah ta’ala menggambarkan tentang keistimewaan para Nabi dengan firman-Nya (yang artinya),

”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan disertai rasa harap dan cemas. Dan mereka pun senantiasa khusyu’ dalam beribadah kepada Kami.”

(QS. Al Anbiyaa’ [21] : 90). Baca lebih lanjut

By Abu Muhammad bin Saleh Posted in Akhlak